+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Memahami Bencana

Lanjutan dari: Tangkuban Perahu – Universitas Pertamina

Arina awalnya hanya memiliki sedikit percikan- wawasan tentang apa yang bisa terjadi menimpa Bandung. Sebab dirinya melihat, bencana yang bisa menimpa orang-orang yang tinggal di atas kotanya, sebatas masalah kriminalitas dan gejala sosial lainnya. Tetapi setelah melihat fenomena lain, di atas hamparan negeri akhir-akhir ini, Arina akhirnya menyadari akan ancaman yang tak bisa dianggap remeh. Yakni, bencana amukan semesta karena terlalu sering dianggap fenomena alam semata.

“Bagaimana dengan Donggala, beberapa bulan lalu? Lantas terhapus oleh bencana Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau yang tiba-tiba?” Ajat membuka lembar ingatan Arina di sebuah rumah makan padang di dekat pasar Lembang.

Arina seumpama kelopak bunga terkesiap tak bisa apa-apa, selain memancarkan keanggunannya. Percakapan mengembang dan penuh intensitas, saling bertatapan.

“Ya, kita berduka. Luka maha dalam menembus ke dada.” Arina mereka-reka kalimatnya untuk menggambarkan apa yang menimpa hati orang-orang Indonesia.

“Seluruh lapisan masyarakat kita berduka. Terus?” Ajat memancing lagi, dan lagi.

“Ya. Mengulurkan bantuannya.” Seadanya Arina memberikan fakta keberadaan yang dia terima dari atas respon setiap kali bencana yang terjadi di Indonesia.

Arina kemudian menengok arah teh hangat dalam gelas berukuran besar di dekatnya. Mencoba meminta waktu agar ia melancarkan tenggorokannya yang serasa terganjal atas pertanyaan bertubi-tubi dari Ajat.

Ajat kemudian mendekatkan tumpukan tisu berwarna-warni yang tersusun gaya khas rumah padang ke arah Arina.

“Sekarang aku ingin lebih dari itu, dirimu juga.” Kalem saja, Ajat tersenyum lebar.

Seolah menunjuk batang hidung Arina untuk berbuat lebih dari sekadarnya.

“Baiklah. Aku akan mengangkat beberapa temuanmu dan dari teman-temanmu juga.” Arina dengan meletakan gelas tehnya. Suaranya seperti ketukan palu keputusan di meja itu.

Hal itu sebenarnya yang ingin sekali didengar dari mulut Arina. Sebuah dukungan yang benar-benar bisa membantu dari seorang jurnalis. Ini akan menjadi sebuah langkah baik dari apa yang selama ini dirinya bersama teman-temannya perbuat.

Akhirnya semua bahan yang pernah dikumpulkan Jantani, Isaac, Ajat dan Karyo yang sempat terkubur kembali dikeluarkan.

Apalagi kehadirian seorang jurnalis muda yang memiliki energi baru akan menjadi kunci emas dalam hal menyingkap misteri Patahan Bandung.

Bagian yang paling mengerikan dari seluruh pertemuan ialah meyakinkannya. Namun bagi mereka dalam suasana penuh duka dan berita bencana di mana mana, menyebarkan informasi ini bisa disangka menjadi hoaks. Setiap penjuru negeri ini bisa jadi sedang membutuhkan ketenangan ketimbang sebuah informasi tentang laporan yang mengerikan.

 “Apakah kalian merasa, kita melakukan hal yang sama seperti dulu kala?”

“Iya serasa de javu.”

Nggak lah percaya aja.

Bukan begitu, Kita pernah kan mengalaminya. Orang orang menyerang kita, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Obrolan mereka membuat Arina merasa asingkan sendiri. Arina awalnya tidak peduli dengan percakapan mereka. Tapi lama-kelamaan mulai penasaran.

“Ada yang kalian sembunyikan?”

“Tidak-tidak tenang saja!”

Bagaimana bisa tenang, dulu saja kita sampai bubar.

“Apa sebaiknya kita sampaikan.

Menurutku sudah kita percayakan.

Ya ampun kalian membuat saya makin kebingungan jika ada yang harus disampaikan maka sampaikanlah segera kalau begini terus tidak akan membantuku.

“Siapa diantara kita yang akan menyampaikan?”

Jadi begini Arina. Dulu kita pernah melakukan ini semua.

Maksudnya

Iya mengirim informasi dan segala hal data data yang kita temui kepada masyarakat

Terus

Kami di kecam.  kami dianggap membuat gaduh dan memperkeruh suasana.

Ya ampun itu resikonya.  Aku kira kalian sudah tahu.

Kamu tahu

Nah kalau begitu apalagi kita persiapkan diri kita semua karena di sini tidak hanya kalian aku pun bertanggungjawab.

Merekapun saling terdiam. Tak ada satupun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Tidak sepatah katapun, juga sebuah tanda isyarat.

Nah sekarang kalian diam ada apalagi ini.

Peristiwa itu telah membuat kami menjadi bertikai.

Ya ampun kalian itu seperti anak kecil.

Kita tidak seperti kamu Arina. Kamu mungkin sudah terbiasa menerima kenyataan ketika masyarakat tidak menerima. Pada saat itu kami benar-benar terhormat. Sekarang pun belum genap sebulan kami telah tiba di Indonesia berkumpul kembali. Kami mikir-mikir lagi.

Terus buat apa kalian mengajakku buat apa kalian menyeret aku buat apa coba itu semua kalau pada masing masing dari diri kalian masih merasa ragu cemas takut, kalian ini.

Kita tidak berhak menyembunyikan apapun dari bagian Tim. Apalagi jika kita merasa tidak percaya satu sama lain. Arina di sini, juga bagian kita.” Nada bicara Ajat  mendadak serius. Jantani, Karyo pun Isaac  menangkap gelagat yang mencurigakan.

Siapa juga yang tidak menganggap Arina, bukan begitu Karyo?

Iya. Jangan berperan gitu deh.

Sudah-sudah baiklah kalau begini mari kita bicarakan semuanya agar tidak ada lagi yang merasa ditutup-tutupi.

Bukan tidak terpikirkan oleh mereka untuk terus menambah amunisi-amunisi. Saat kembali memutuskan untuk meyakinkan pada setiap orang. Hanya saja selalu  terbayang apa jadinya jika harus merekrut beberapa orang dari luar bidangnya agar percaya kepada mereka. Selalu bayangan cemoohan di masa lalu menghantui mereka. Dan tentu saja itu mengecilkan tekad.

Baru kali inilah ketika Arina muncul dan dengan sebuah pandangan baru ia pun berani mengambil resiko itu.

Seorang sejarawan, akan membuat kita menjadi kuat.

Bukan tidak terpikirkan.

Sama aku pun terlintas.

Tapi

Kok Ada tapinya terus

Tahu lah alasannya

Aku mengerti makanya punya inisiatif sendiri.

Mungkin beberapa jam lagi dia akan datang

Kita lihat

Semoga seperti apa yang kita pikirkan.

Muncul sosok Olive, sejarawan muda. Awalnya tim dosen tak percaya sebab selalu sinis. Pada kenyataannya, Olive membantu.

Jangan sampai kehadiran Olive membuat kita menjadi kehilangan konsentrasi.

Maksudmu apa ini? Ajat merasa sedang disindir.

Bukan apa-apa kita kan beberapa sudah memang memiliki keluarga maksudku tidak untuk siapa-siapa tapi saling mengingatkan.

Setahu aku memang tidak ada masalah tapi tetap saja kalian menuduhku saya mau menyukai Arina. Kalian semua seolah-olah menyudutkan aku.

Bukan begitu bro, maksud dia kita tetap fokus sama apa yang ada di meja tugas kita masing-masing.

Iya saya tahu saya tidak akan membawa urusan perasaan dan hati dalam pekerjaan.

Itu lebih bagus dan berkomitmen.

Tidak usah di ingatkan saya profesional.” Ajat  Benar benar merasa sangat kecewa dengan kemunculan sikap dan rasa curiga yang berlebihan kepada dirinya. Sebagai laki-laki Ajat sangat wajar jika dia tiba-tiba merasa tidak diuntungkan.

Bandung yang masih terlelap itu dibangunkan paksa, oleh guncangan Sesar Bandung yang mulai meraba-raba. Meskipun hanya sebuah gempa yang kecil yang tidak membangunkan beberapa orang telat tetapi bagi orang-orang yang sudah terjaga subuh tadi merupakan sebuah tanda.

Getaran mungkin hanya membuat teriak air, ranjang-ranjang bergoyang dan tak menjatuhkan benda di atas rak lemari ataupun yang lainnya. Tetapi itu semua telah memicu ke arah apa yang selalu dikejar oleh kami.

Jantani terbangun disamping Riyani. Tak sempat berpikir panjang menyuruh Riyani berlindung.

Pertanda-pertanda gempa itupun telah membuat Kota Bandung mulai memikirkan jalan keluar. Dari beberapa hal yang naik ke permukaan, tiba-tiba saja kami menjadi bahan perbincangan.  Mereka mulai melirik dan menatap kami seperti sebuah tatapan permohonan agar kami segera turun tangan.

Tidak ada satupun dari telepon genggam kami yang tidak sibuk dengan panggilan. Kantor-kantor pemerintahan, media massa, saluran saluran tivi,  dan yang paling penting ialah ilmuwan-ilmuwan juga para peneliti lain mulai mempertimbangkan kehadiran kamu.

Dari sejak awal pergerakan gempa itu memberikan tanda-tanda bahwa kenyataannya Bandung bisa saja patah. Lempengan Sesar Lembang telah benar-benar hidup.

Kemunculan data dari seismograf kini telah memperkuat apa yang dari dulu selalu terbantahkan hanya gara-gara satu bersama lain tidak percaya pada apa yang menjadi teman kami.  Kami pun bergerak dengan segala kemampuan untuk mulai menyebar.

Lanjut ke: Kekuatan Media Sosial – Universitas Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *