+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Tangkuban Perahu

Lanjutan dari: Media Bercerita – Universitas Pertamina

Abbas sudah menunggu di gerbang bawah Gunung Tangkuban Perahu ketika Isaac datang. Ia berbicara dengan seseorang di balik kaca tiket, mengenalkan Isaac. Isaac sedang malas untuk berbasa-basi tapi mesti dilaluinya agar suatu hari nanti ia bisa masuk mudah tanpa harus merepotkan kawannya itu.

Lima menit kemudian mereka sudah berada di kendaraan masing-masing.

 “Tidak ada gerakan berarti,” ujar Abbas. “Letupan kecil, seperti biasanya. Pelepasan gas karena reaksi masuknya air hujan ke magma. Sisanya tidak ada yang spesial.” Abbas menyodorkan segulung kertas dengan kurva pergerakan larva di perut Gunung Tangkuban Perahu.

“Bagaimana di tempat lain?” tanya Isaac tanpa melihat lawan bicaranya. “Selama ini kalian terpusat ke pergerakan kawah.”

Abbas duduk di komputernya. Ia memijit ini-itu sampai akhirnya keluar peta sekitar Bandung Barat dan Kota Bandung. Ada lingkaran merah yang bergerak membesar mengecil di beberapa tempat. “Kami tidak bisa memastikan. Tapi sepertinya ada sesuatu. Salah satu koordinat tepat di lokasi yang kamu minta.”

“Sudah ada yang coba meninjau?”

“Sabotase panen. Ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa tahun sebelumnya, pernah terjadi. Tanda-tandanya hampir sama. Hanya saja kali ini lebih luas dan tidak ada tanda-tanda perusahaan paprika akan diaktifkan lagi.”

“Perusahaan paprika?”

“Perusahaan paprika asal Australia ingin memperluas perkebunannya. Ia menawar tanah warga. Namun ditolak. Akhirnya mereka menyogok oknum pegawai desa untuk menaburkan zat khusus agar sayuran milik warga mati. Kapitalisme.”

“Watak borjuis.”

Abbas menunjukkan foto di layar. “Ini gambar beberapa tahun lalu.” Sayur-sayuran layu, mengerut. Tidak ada tanda kerusakan oleh ulat, wereng, atau kepik. Semuanya baik-baik saja kecuali kondisi mengerut. “Dan ini aku dapatkan tadi.” Isaac memahami jika Abbas dan lainnya menyimpulkan kejadian serupa dengan sebelumnya. Akan tetapi ada perbedaan mencolok. Warna seluruh tetumbuhan di gambar kali ini putih seperti tersepuh tepung. “Racun apa yang membuatnya begitu?”

“Sebaiknya kau tanyakan langsung ke balai. Sebelum kafe cinta, ada gerbang tanpa tanda pengenal selain huruf stainles berkarat. Seratus meter dari sana ada gedung yang di sampingnya terdapat rumah kaca. Mereka lebih tahu.”

“Katakan apa yang bisa membalas kebaikanmu ini?” Isaac menggulung kertas di tangannya dan hendak dimasukkan ke dalam tas.

“Dengan mengembalikan kertas itu.”

“Abbas?” tanya Isaac lebih kepada tidak percaya atas apa yang didengarnya. “Lucu sekali, kawan.” Isaac tertawa masam. Namun Abbas tidak menurunkan tangannya, tetap meminta kertas yang dipegang Isaac.

Isaac mendengus. Ia menaruh kertas di meja. Ia merogoh saku dan menyimpan sebuah flasdisk di tangan Abbas. “Ini pasti lebih mudah bagimu.” Kini giliran Abbas yang terbebani.

“Pelanggaran berat. Kau tahu itu. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan data.”

“Kalau begitu kamu memilih untuk menjerumuskan kita berdua.”

Abbas menggerutu. Ia mengambil flasdisk tadi kemudian menyalin data-data. “Aneh juga mengatakannya, tapi aku rasa aku berharap kali ini kau benar tentang kehancuran itu. Supaya aku bisa bebas dari pemecatan.”

“Aku berharap sebaliknya.” Mata Isaac tidak diam lama di sebuah benda. Matanya terus mencari apa pun yang bisa ia dapatkan. Ketika Abbas memberikan flashdisk kepadanya, Ia berkata, “Aku punya firasat suatu hari nanti kita akan berada di suatu genting dan membutuhkan nomor masing-masing.”

Mobil Isaac berjenis Hilux 4WD warna hitam. Aku pernah bilang warna hitam yang terkesan klasik itu tidak akan menutupi kemewahannya. Mobil itu berhenti di halaman Kafe Cinta, lalu berbalik dengan gerakan mulus, memasuki gerbang dan masih berjalan seratus meter ke depan.

Isaac berusaha menengok ke dalam kantor melalui jendela. Tidak ada siapa-siapa di dalam. Juga di luar. Ia berkeliling kantor dan rumah kaca. Sepi. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke mobil.

Isaac menyempatkan sekali lagi menyapu pandangan. Semuanya tampak baik-baik saja. Kecuali di atas sana. Banyak orang berkerumun.

Aku memasukkan beberapa barang ke dalam tas. Di belakangnya, Riyani mengikutinya kebingungan.

“Bisakah kamu memberiku penjelasan barang lima menit saja? Tiga menit pun tidak apa-apa.” Riyani memohon.

Aku berhenti. Lantas menyadari tak seharusnya mengabaikan Riyani. Aku memeluk Riyani beberapa saat lalu berkata, “Kapan terakhir kita mengunjungi ibumu?”

Riyani menenggelamkan wajahnya. Dari detak dan nafasku yang tak beraturan aku tahu ada sesuatu yang buruk terjadi. Dan kesemuanya itu tidak akan begitu reaktif kecuali karena satu hal. Patahan Lembang!

“Liburan semester ini kalau tidak salah.”

“Sudah lama juga ya?”

Riyani tahu itu isyarat padanya agar ia mengungsi beberapa saat ke tempat yang aman. Kami sudah membicarakan itu. Aku mengatakan salah satu tempat yang kemungkinannya terkecil terkena dampaknya adalah, Ya Bogor. Patahan Lembang yang bersilangan dengan beberapa patahan berakhir di Padalarang. Ceruk Bandung juga dianggap mampu menampung luapan banjir bandang dan lahar sehingga tidak akan meluber ke daerah lain.

Air mata menuruni ceruk celah pipi dan hidung Riyani. Buru-buru Riyani mengusapnya. “Apa artinya kamu tanpa patahan Lembang.” Aku berusaha menghibur diriku sendiri. “Dan kamu tidak akan didengar tanpa data-data di laptopmu bukan? Akan aku siapkan.”

Di jalan Maribaya, Arina memilih menjauhi jalan. Segala yang di hadapannya hijau melulu. Kecuali tebing tinggi angkuh yang menghadang pandangannya. Di kejauhan terlihat titik kecil bergerak di batasi pagar. Apa yang mereka lakukan di ketinggian seperti itu? Tanya Arina tidak habis pikir. Di sisi lain terlihat gunung Palasari anggun dengan gaun hijau dedaunannya.

“Masih jauh, Jang?” Teriakan Arina menggema.

“Kalau jalan kaki satu jam,” balas Ujang sembari mendekat. “Di sana.” Ia menunjuk ke kerumunan perkampungan.

“Saya lanjut sendiri aja.”

Ujang menolak ide itu. Bagaimana pun juga ia yang membawanya dari penginapan dan ia pula yang akan bertanggung jawab. Tapi Arina ngotot atas keputusannya. Ia melihat jamnya. Jam segini waktunya mobil pengangkut sayur pulang dari pasar tapi sudah menunggu lama tidak ada juga lewat. “Saya temenin. Jangan menolak!”

Sepanjang jalan Arina tidak henti-hentinya mengagumi keindahan tersembunyi kota Lembang. Entah mengapa ia merasa dinding itu begitu berwibawa, seperti seorang kakek yang bercerita tentang masa mudanya yang dikelilingi cucu-cucunya. Sepanjang jalan itu juga ujang menunjukkan ini itu, jenis sayuran dan bagaimana merawatnya, bunga-bunga, pepohonan, dan juga burung yang kebetulan lewat.

Tanpa diberi tahu pun Arina hapal suara menyerupai gerutu itu bukan berasal dari makhluk hidup, melainkan dari mesin berkapasitas besar mendekat. Ujang mengangkat tangannya begitu mobil itu melintasi mereka dengan kecepatan tinggi. Angin dari mobil itu menampar wajah Ujang dan Arina. Rambut Arina yang panjang melebihi bahu mengenai muka Ujang. Akan tetapi tanpa diduga mobil itu berhenti dengan gerakan menakjubkan, mundur dan seseorang keluar dari pintu kemudi, Isaac.

“Rumah Mak Emi masih jauh?” tanya Isaac.

“Lumayan. Di perkampungan sana,” jawab Ujang ramah. Arina menemukan nada harapan lain di jawabannya.

Isaac melirik motor yang di papah Ujang dan mendapati ban motornya kempes sempurna. “Kalian,” jari Isaac menunjuk bergantian Ujang dan Arina dan seolah mengabaikan kemungkinan antara mereka berdua melanjutkan, “butuh bantuan? Akan kuantar ke bengkel terdekat.” Ia membuka bagasi belakang mobilnya. Tanpa diaba-aba Ujang dan Isaac menaruhnya.

Arina ragu apakah harus duduk di samping Ujang yang memegang motornya di belakang.

“Kosong?” Ujang menunjuk Arina.

“Tentu saja.” Isaac berjalan ke depan.

“Aku takut bukannya untung di tolong malah buntung karena menggores mobil bagus ini. Aku tidak apa-apa.”

Tidak ada pilihan lagi. Arina duduk di bangku penumpang depan.

Arina dan Isaac tidak bicara satu sama lain. Mereka diam. Namun bukan diam biasa. lebih karena sibuk oleh pikiran masing-masing. Arina menerka apa saja yang akan didapatkannya seperti yang dikatakan Pak Kus. Dayang Sumbi sembunyi, menggoda pendaki dengan mengubah diri menjadi bunga putih anggun dan harum, gua, benteng dan tomat-tomat yang busuk dan memutih. Adapun Isaac meyakini lingkaran merah di beberapa tempat bukan tanpa maksud. Ada sesuatu yang tidak dikatakan Abbas kepadanya. Begitu pula peristiwa matinya tanaman di perkebunan warga.

Keheningan pupus dengan tepukan Ujang di bodi samping mobil.

“Di depan, Kang. Yang ada pohon jeruknya!”

Ternyata, Ajat telah lebih dahulu tiba di rumah Mak Emi dan begitu terdengar mesin mobil sampai di halaman rumah ia keluar.

“Seharusnya aku tidak terkejut kau sudah ada di sini.” Isaac melirik kanan-kiri. “Di mana motormu?”

“Di pinjam cucu Mak Emi. Dia dapat kabar, ada temuan lain di hutan bagian dalam.”

“Sejujurnya aku lebih tertarik dinding batu tadi.”

“Temanku di BMKG menitipkan bingkisan. Aku sudah baca sekilas dan hasilnya sangat menarik untuk mengganti kata mengerikan.”

“Temennya diajak masuk!” Mak Emi setengah berteriak di balai rumahnya.

Isaac mengangguk sembari mengatupkan kedua tangannya. Ajat setengah tidak percaya melihat seorang perempuan turun dari pintu penumpang depan. Perempuan berambut panjang, tumbuh semampai pohon pinang, dan riasan ala kadarnya. Di punggungnya tersampir tas kanvas dan di dadanya menggantung kamera.

“Teman seperjalanan. Ban motor mereka bocor. Dan kami satu arah menuju rumah Mak Emi.”

“Arina,” buru-buru memperkenalkan diri.

“Wartawan?” tanya Ajat.

“Iya, tapi lepas alias freelance. Bagian kolom akhir pekan.”

Setelah memastikan motor Ujang mendapatkan perawatan, Isaac, Ajat, dan Arina memasuki rumah Mak Emi. Tidak ada yang menonjol dari rumah itu. Rumah panggung dengan bilik kulit kayu sehingga memiliki warna alam yang khas. Untuk mencegah angin masuk di bagian dalam diberi lapisan khusus.

Sudah tersedia beberapa gelas berisi teh panas, makanan olahan khas pedesaan, dan jagung rebus. Tidak ada yang tahu masih berapa lama keramahtamahan itu bertahan. Ketika alam sudah mulai menggeliat gerah dengan tingkah laku manusia yang menghuni punggungnya.

Arina memegang peranan di awal percakapan. Ia begitu terampil dan terlatih mengambil posisi. Sebagai wartawan lepas ia memiliki apa yang sebenarnya dicari oleh kami.  Dari caranya bicara yang menyenangkan, sorot matanya berkawan tanpa ada indikasi mengintimidasi narasumber.

Dengan kemampuan Arina itu Mak Emi menceritakan sebuah batu yang menjadi cikal bakal nama kampung itu. Arina menerimanya dengan senang hati karena memang itu alasan keberadaannya di Lembang. Berbeda dengan Isaac dan Ajat yang lebih tertarik jika Mak Emi menceritakan dinding raksasa yang mereka lewati di perjalanan menuju ke sana.

Akan tetapi Mak Emi sampai pada titik di mana kedua lelaki itu ikut juga memerhatikan. “Tahun 40-an lonceng itu sempat hilang. Bapakku mencarinya ke sana kemari. Karena tidak menemukan juga akhirnya ia sakit. Lebih karena merasa terpukul tidak bisa menjaga penemuan terbesar dalam hidupnya itu. Di satu malam, demam tinggi menyerangnya. Di tengah igauannya ia bertemu seorang santri yang mengatakan bahwa batu itu akan kembali di tempat semula dalam dua hari.”

“Dan kembali?” tanya Ajat.

“Seperti yang dikatakan.”

“Lalu?”

“Jepang datang. Membuat kekacauan. Banyak pekerja peternakan dibunuh. Yang selamat dibiarkan bekerja tanpa upah.” Mata Mak Emi menerawang. “Sebelum hilang Mak sempat mendengarkan suara lonceng pelan menggema di tengah malam. Suaranya seperti rintihan. Perih tak tertahankan. Mak kira tak akan pernah mendengarkan suara mengerikan itu lagi sampai empat hari yang lalu terulang.”

“Maksud Mak Emi mendengar suara itu lagi?”

Mak Emi mengangguk. “Dan juga hilang seperti sebelumnya.”

“Hilang?” Arina, Isaac, dan Ajat memekik hampir bersamaan.

Apakah ada peta untuk mencari

kebahagiaan di dunia?

Sehingga, jika perlu harus keluar

dan mencarinya aku tak memperdulikan

lagi batas negara!

“Sebenarnya, bukan hanya Bandung

yang memiliki potensi bencana.

Setiap manusia memiliki resikonya,

misalnya telanjur ditinggali hati kita

sama orang yang tak bisa dipercaya.”

Aku tak mau kembali dan sendiri

seolah sedang berdiri tepat

di atas episentrum kesepiannya

dan tak seorangpun hendak menyelamatkan

karena aku dan dirinya

telah jelas-jelas pernah terluka

entah oleh siapapun, yang meningglkan kita

seolah isoseista bagi luas jiwa

tapi jarak selalu meminta skala

lebih dari apa yang terbayang

sedang langkah bukanlah azimuth

yang punya sudut dan ke arah jarum jam

tak membawamu kembali padaku

beri aku koordinat kesedihanmu

karena ke tempat itulah

aku membawa banyak kebahagiaan

meski sifat kita berdua

seperti saling lengkung equator

yang saling membusur

tak terasa keberadaannya

tapi ada untuk saling mengukur

Lanjut ke: Memahami Bencana – Universitas Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *