+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Media Bercerita

Lanjutan dari: Reuni – Universitas Pertamina

Seorang anak lelaki umur delapan tahun keluar dari kandang sapi. Ia melihat ayahnya memasukkan hasil perahan dari ember ke ember khusus. Anak itu mengambil ember siram lalu menapaki jalan setapak menanjak. Satu selang diambil, memutuskan dari sambungan dan mengisi ember siraman. Sembari menunggu ia berjalan ke arah kebun tomat, namun ia terpana melihat separuh kebun sayurannya mengering. Ia berlari menuju ayahnya di kandang sapi. Sebelum sampai ia tersandung selang, menumpahkan isi air di ember siram dan dari selang menghamburlah semprotan ke mana-mana.

Retakan tanah yang jelas-jelas memperlihatkan fenomena ganjil. Ada penurunan tanah. Tentu saja, para petani yang setiap hari di kebunnya pertama kali menemukan gejala-gejala tersebut.

Buku berserakan di lantai dan di atas kasur. Seorang perempuan menggeliat, perempuan bernama Arina. Beberapa buku terjatuh. Ia terlonjak kaget, bangkit. Setelah menyadari hanya buku jatuh, ia mengusap keringat di keningnya. Lalu meraih gelas berisi air di atas meja samping.

Sebelum beranjak menuju westafel ia mengaktifkan HP-nya. Ketika bergosok gigi, mencuci muka dan ritual pagi lainnya, terdengar beberapa notifikasi. Setelah selesai ia beranjak, melihat HP. Kebanyakan berasal dari keluarganya yang meminta pulang. Di satu notif tangannya berhenti. Ia sudah menggeser, akan menyentuh tombol buka namun urung. Ia lemparkan HP-nya kembali ke kasur. Kemudian pergi dari kamar masih menggunakan pakaian yang ia gunakan saat tidur.

Arina adalah seorang perempuan yang menyukai tantangan dan selalu ingin menikmati hidup. Tak suka diatur, dan bukanlah perempuan yang kebanyakan di masa-masa sekarang, mudah tersulut untuk menikah. Memilih menjadi wartawan, misalnya, sudah membuktikan kalau dia berani bertaruh dan tak memperdulikan apakah pekerjaan itu akan menuntut banyak padanya. Mencari berita, mengejar sumber, atau melakukan investigasi. Bukanlah hal yang menggiurkan tentunya, selain memerlukan tenaga ekstra dan komitmen yang penuh.

Baru beberapa bulan lalu, dirinya menghindar dari kedua orang tuanya. Intinya, ia tak ingin tinggal membebani Ibu-bapaknya. Selain alasan utamanya ialah mulai terdengar bisikan-bisikan khas orang tua, yakni segera menikah atau dinikahkan!

Bagi dirinya, menjadi perempuan selalu lebih lama terasa dimiliki kedua orang tuanya. Apapun itu selalu menjadi perhatian khusus. Sejak kecil misalnya, pakaian yang mesti dipakainya, teman yang mesti dipilihnya, jam waktu kepulangannya dan sampai dewasa pun mesti sesuai harapannya ketika memang belum waktunya menikah.

Entah tradisi dan hanya sesuatu yang dibuat-buatnya saja, menjadi perempuan selalu setengah haknya tak pernah benar-benar dimiliki.

Arina setengah terkejut melihat pegawai kebersihan berada di depan pintu. Ujang, lelaki berusia 20-an sedang melap lantai.

“Pagi,” sapa Ujang.

“Tumben jam segini baru beresin.”

“Tadi bantuin dulu tetangga. Tomatnya kayak dirusak orang.”

“Dirusak gimana?”

“Setengah pekebunan tomatnya mengererut gitu. Busuk di pohon. Padahal beberapa hari lagi mau panen. Kasihan.”

Arina tak sepenuhnya mengerti tentang palawija. Tapi mendengar nada bicara Ujang yang biasanya ramah berubah, ia menyadari ada yang gawat.

“Bukan cuma satu kebun. Banyak banget.”

“Pak Kus ikut bantu juga?”

“Dia ikut bantu juga tadi. Tapi aku lupa tanya.”

Arina menimbang. Karena tak ada jadwal dan sedang malas jalan-jalan tanpa arah, ia memilih untuk melihat peristiwa itu.

“Bisa antar saya ke sana?”

“Setelah pekerjaanku selesai.” Ujang menjawab hanya sejenak menatap. Lantas melanjutkan pekerjaannya menggosok sudut lantai.

“Masak apa nih, Nek?” Arina mencium pipi Eyang Ning.

“Kalian bilang salad. Kami sebut lotek.” Eyang Ning tinggal sendiri di salah satu lembah di bukit Lembang. Anak dan cucunya lebih memilih berkegiatan di kota. Berkebalikan dengan Eyang Ning, yang semakin tua semakin merindukan alam, kabut, dan suara serangga kalau malam tiba. Karena rumah yang ia tinggali cukup besar, maka Eyang Ning menyewakan beberapa kamar di rumahnya. Alasannya untuk menemaninya. Awalnya anak-anaknya menolak. Namun Eyang Ning bersikukuh. Akhirnya anak-anaknya mengizinkan asalkan tamu yang menyewa tak sembarangan. Hanya mereka, beberapa mahasiswa yang sedang KKN atau pekerja saja.

“Kayanya enak?”

“Kalau Eyang yang bikin pasti enak.”

Arina seakan diperslikan menyendok lotek itu. Setelah melihat tak ada penolakan, barulah Arina memberanikan diri mencobanya. Hampir saja air liur Arina tak tertahankan, rasa lotek yang benar-benar kuat. Aroma kencur meresap, kacang yang lembut serta beberapa sayuran segar begitu keriuk.

Sembari menunggu air panas untuk kopi, Isaac membuka sosial medianya. Salah satu temannya mengirim foto kondisi di Lembang. Ia menghubungi pemilik akun dan mendapatkan banyak informasi. Isaac benar-benar penasaran dengan apa yang akan dilihat dari film unduhannya.

Isaac membuka laptopnya. Membuka beberapa file. Ia juga mengambil buku-buku dari rak secara acak. Ia membaca semuanya satu-persatu. Sampai akhirnya ia mendapatkan kesimpulan. Baru saja hendak berkata, terdengar suara teko menjerit dari dapur. Air telah mendidih.

Konsentrasinya terbagi, hampir saja memaki. Untung dia justru nyebut dan menahan diri.

Ponsel berdering. Ajat cepat memencet tombol hijau.

“Baru aku akan menghubungi.”

“Ya.”

“Kabarnya sudah menyebar. Di media sosial. Tentu. Apalagi.”

“Aku tahu itu. Kau tidak usah mengajariku.”

“Ya. Setuju.”

“Tidak. Kita bertemu di sana. Kau berangkat saja. Ambil apa yang bisa kita pelajari.”

“Mandi? Waktu wisata yang buruk. Kecuali maksudmu menyaksikan Bandung direndam lahar dan berantakan.”

Ajat hati-hati berkata, “Bersama Jantani.”

“Tidak ada yang lain.”

“Sedang bulan madu. Aku tidak mau mengganggu. Mungkin ikut serta.”

“Isaac, sudah lama berlalu dan kamu masih saja memendam dendam. Tidak capek dengan itu semua? Aku sudah bertemu dengannya. Datang di pernikahan Karyo. Dia menerimaku dengan baik. Padahal aku datang tanpa undangan.”

“Terserah katamu. Yang pasti hari ini dia tidak datang. Tidak atas ajakanku. Kecuali jika ia datang sendiri.”

Arina memegang erat secuil jaket Ujang, ia tak ingin terjatuh.  Jalan menanjak dan rusak. Batu sebesar pergelangan tangan tergeletak begitu saja, terlepas dari aspal yang sudah entah ke mana. Beruntung aroma kabut bisa mengobati sedikit rasa takut. Di sisi kiri, di sela-sela rumah sederhana selalu hijau dari sawi, kol, cabai hijau, bawang daun, dan lainnya, hanya sedikit tampak merah dari tomat matang.

Di atas, di kaki Gunung Putri, di selaput kabut, ada area yang kesemuanya putih, seolah dedaunan dan bebuahannya terlalu lama direndam kabut sehingga warnanya pucat.

Semakin ke atas semakin jelas kesibukan orang-orang. Para lelaki lebih sibuk, ke sana-ke mari. Perintah hilir mudik tidak henti. Ibu-ibu berkerumun dengan mulut tak henti mengeluarkan suara, menduga-duga apa yang terjadi pada kebun-kebun.

Ujang menghentikan motornya di sebuah halaman taman kanak-kanak. Seorang perempuan berhijab, menjelang dua puluhan keluar dari salah satu ruangan, di tangannya ada buku.

“Titip ya, Neng. Mau ke atas.”

Perempuan itu mengangguk. Sampai Ujang dan Arina menghilang, perempuan itu masih ada di ambang pintu, seolah menunggu, atau mungkin cemburu.

Setelah melalui beberapa gang, pekarangan rumah warga, mereka sampai di kandang milik Pak Kus. Aroma kotoran sapi menyerang hidung Arina yang tidak biasa mendekati kandang peliharaan selain kucing dan burung parkit. Ujang meminta Arina menunggu, tidak lama kembali dan meminta Arina untuk mengikutinya menuju puncak Gunung Putri.

“Yang aku ceritain kemarin, Pak Kus,” ujar Ujang mengenalkan Arina.

“Sayang sekali, Eneng datangnya pas tomat Abah kena hama.”

Pak Kus tulus mengucapkannya. Tak ada kesan basa-basi. Khas warga desa. Arina berpikir kapan terakhir ia merasakan ketulusan seseorang. Sudah lama sekali sampai-sampai ia lupa pastinya. Arina tak berusaha menggali tentang kemungkinan adanya sabotase menjelang panen.

Penyebutan Gunung Putri terasa kurang cocok. Lebih tepat menggunakan kata bukit. Dari posisi mereka berdiri, di puncak Gunung Putri, Arina bisa melihat kelokan jalan hitam seperti ular raksasa. Pantas saja Jepang membuat benteng di sana karena posisinya yang strategis untuk pengintaian dan penyerangan dadakan.

“Tidak banyak yang bisa bapak ceritakan. Cerita yang Abah dengar dari leluhur Abah kurang lebih sama dengan apa yang didengar Neng sekarang. Cuma mungkin tambahannya, orang-orang di sini percaya, ketika Sangkuriang marah karena sadar telah tertipu, Dayang Sumbi bersembunyi di gua di gunung ini.” Pak Kus beranjak menunjukkan lekukan cukup dalam tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. “Makanya gunung ini namanya Gunung Putri. Maksudnya Gunung Putri Dayang Sumbi.”

“Gua ini juga digunakan oleh Jepang sebagai gudang logistik dan senjata selama pengintaian.” Ujang menambahkan seolah menjawab kebingungan Arina.

“Tapi Neng akan menemukan yang lebih menarik dari saudara Abah.”

“Yang menarik?”

Pak Kus mengangguk. “Anterin Si Neng ke Mak Emi, di Lembur Batu Lonceng.”

Lanjut ke: Tangkuban Perahu – Universitas Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *