+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Reuni

Lanjutan dari: Puisi – Universitas Pertamina

(Tiga Tahun Kemudian)

Kompleks perumahan masih sepi. Lampu jalan menerangi temaram. Riyani duduk di mobil dan mengemudikannya dengan tenang. Ia mematikan mobilnya lalu menyentuh punggung lenganku perlahan. Rupanya dia membangunkanku perlahan.

“Terima kasih, Istriku. Kau memang pengertian”

Riyani tersenyum. Ia melepas sabuk dan keluar. Aku mengikuti di belakang kemudian membuka pintu penumpang.

“Biarkan bibi yang bereskan.”

“Kamu tahu apa yang aku rindukan darimu?” tanyaku yang dijawab gelengan kepala Riyani. “Cerewetmu itu.”

Sekali pun langit gelap dan pencahayaan hanya dari lampu jalan yang setengah hati terangnya, Aku masih bisa melihat gerik garis mata malu Riyani dan pipi merahnya.

Aku mengambil ransel. Hampir bersamaan dengan suara pintu mobil di tutup, perempuan yang mengurusi rumah tangganya menghampiri. Aku mengambil sebuah kantong plastik dari bagasi belakang.

“Buat bibi.”

“Terima kasih.”

“Maaf ya digangguin malem-malem.”

“Enggak tiap hari ini. Lagian ini juga kan tugas bibi.”

Aku sangat kelelahan karena perjalanan panjang dari pesawat, kepulanganku dari Amerika. Namun hal itu tak mengurungkan niatnya untuk membuka beberapa dokumen digital di laptopku. Meja kerja di kamar terawat bersih dan rapi.

Riyani keluar dari kamar mandi. Aroma sabun menguar mengisi ruangan. Ia melihat jam. “Ada cukup waktu. Istirahatlah! Akan aku siapkan yang kamu perlukan.”

Aku menyetujuinya. Aku membereskan kembali laptopku lalu tertidur dengan masih menggunakan pakaian yang kupakai selama perjalanan pulang.

Langit Bandung cerah berawan. Cocok untuk berjalan kaki santai di tengah kota yang trotoarnya mulai tertata. Beragam jenis bunga ditanam dalam pot dengan sedemikian rupa, memperkuat slogan Bandung Kota Kembang.

Aku kembali ke kota ini, serasa ada yang belum tuntas. Tentang bagaimana dahulu, kecermatanku ditumpuhkan demi menggali sebuah bukti. Tapi dengan seseorang yang ada di sampingku, rasanya memang tiada lagi hal yang mesti diincar apalagi diperjuangkan. Sebab setelah seseorang jatuh ke pelukan jodohnya, maka kita hanya ingin mempertahankannya selama mungkin.

Oh terlintas, bayang-bayang para sahabatku semasa ‘peperangan’. Satu hari ke hari lain, satu hati ke hati lain, semuanya saling bertautan. Meskipun mereka semua berusia di bawahku, hanya beberapa tahun saja. Dan aku pun memang terbiasa dan merasa sepantaran saja. Jadi sangat wajar, mereka senantiasa membuat aku kangen.

Ajat masih nangkring, di atas motornya. Ia ragu akan masuk atau tidak. Karena sebenarnya ia tak diundang. Ia datang ke hajatan pernikahan Karyo karena diajak olehku. Beberapa hari yang lalu, aku bersepakat untuk datang kepernikahan Karyo bersama.

Selain itu aku juga masih ragu apakah Karyo akan menerimanya setelah pertemuan terakhir mereka yang panas. Di sisi lain aku juga ingin ikut merayakan kebahagiaan pernikahan Karyo. Beberapa kali, baik dirinya, aku, dan Isaac menjodohkannya selalu gagal. Kegagalan biasanya datang dari Karyo sendiri. Aku tak tahu alasan utamanya apa tapi sepertinya permasalahannya rumit.

Di kejauhan ia melihat diriku keluar dari mobil. Diikuti Riyani. Ajat menghampiri.

“Hampir aku pulang lagi.”

“Selama tiga tahun ini, Bandung berubah banyak.”

“Makin baik atau buruk?”

“Beberapa hal pada keduanya.”

“Kau pun berubah. Makin tua.” Kami tertawa, saling menumpahkan kekangenan masing-masing dalam sebuah rangkulan.

Aku melirik Riyani yang sudah ada di sampingku. “Ya. Yang penting ada yang mencintai kita.” Kami tertawa kembali. Kecuali Riyani. Ia senyum terpaksa.

Patahan Bandung-lah yang menyatukan kami sekaligus yang memisahkannya kemudian. Aku yakin itu. Seyakin cinta Riyani yang bakal menyatukan kami. Dan seyakin ular raksasa itu akan menggeliat lantas menghamburkan apa pun yang ada di atasnya bertebaran seperti kertas konvetti. Karena itu aku yakin di antara Ajat yang bersembunyi di balik punggungku kini, dan Karyo yang lebih banyak senyum kelelahan di pelaminan sana, baik-baik saja.

Aku akui wajah Karyo berubah ketika melihat Ajat. Dari yang senang melihatku dan Riyani datang menjadi kebingungan ada Ajat di belakangku.

“Ini kejutan.” Karyo setengah memekik. Ia menyalami Ajat dan memeluknya.

“Isaac?” tebak istri Karyo, sekali pun berdandan sederhana namun tampak luar biasa.

Aku dan Ajat berpandangan. Tidak menduga ia mengenal teman kami yang lain.

“Ajat,” lanjutnya, “Pasti.”

Karyo tersenyum. Begitu pun kami. Tebak-tebakan itu membuatku bahagia. Lama kami tak bertemu, Karyo tetap menatap wajah kami tanpa kesan yang sebelumnya pas ditinggal. Luar biasa. Pertengkaran kami yang terakhir itu tak meninggalkan jejak lama.

“Teman yang sering dimarahi suamimu.” Ajat menambahkan.

“Karena selalu berusaha comblangin dia.” Aku menambahkan.

Kami tertawa makin keras. Mengabaikan jajaran orang yang mengantre bertemu pengantin. Juga tatapan aneh para undangan.

“Di pojok sana ada sate kambing. Kesukaanmu. Cepat pergilah ke sana sebelum resepsi kami hancur gara-gara acara buka-bukaan aib.”

Kami melangkah diiringi tatapan lega para pengantre. Kami larut dalam acara pernikahan Karyo.

Satu-satunya alasan kepulangan kami ialah ingin menghadiri pernikahan Karyo. Bukan karena suatu yang penting, apalagi mengingatkan pada projek ‘penyelamatan dunia’ yang pernah menjadi cemoohan orang-orang. Membayangkan Karyo menikah adalah sama pentingnya dengan menyelamatkan persahabatan kami. Terakhir, tiga tahun lalu, ketika Aku dan Riyani menyodorkan nama untuk Karyo jadikan pasangan, malah gagal. Ketika Ajat dan Retno berusaha mencomblangkan dengan seorang dosen kampus swasta pun sama saja, gagal. Paling buruk memang perjuangan Isaac, belum sempat dipertemukan, Karyo sudah tersulut amarah dan hampir perang.

Makanya, meskipun kami sudah tersebar ke penjuru dunia, pernikahan Karyo ialah unggun di tengah ketersesatan dan kehilangan kontak. Kami memutuskan pulang ke Indonesia. Perayaan ini akan menjadi sangat menyenangkan. Lupakan dulu tentang pekerjaan, rutinitas dengan kantor. Penelitian-penelitian akan diabaikan sementara. Nostalgia di depan akan menjadi titik awal kami memulai cerita baru di tengah kepercayaan yang kian surut.

“Jat, kita akan apakah Karyo?” kataku, di seberang telepon.

“Bisa kita arak, mungkin.”

“Kayak pas kuliahan dulu lagi?”

“Beda..” kata Ajat dengan penekanan.

“Bedanya apa?”

“Arak sambil kita cetak foto-foto dia dulu masih lugu, hahaha.” Suara Ajat berbaur dengan rasa senangnya.

Itulah kali pertama, aku kembali mendengar Ajat lepas mengusulkan ide padaku. Aku malah larut tertawa. Kebawa suasana.

“Setuju, Jat! Itu brilian. Hahaha.” Kemudian aku lupa bertanya jam berapa tepatnya dia sampai Indonesia. Semua kegembiraan menemukan Ajat yang dulu, telah membuatku tak ingat bertanya dan berbasa-basi seperti rencana semula.

Kita melupakan tentang kepedihan kita masing-masing. Kita melupakan tentang kesakitan kita masing-masing.

Riyani aku perhatikan telah menyadari, kalau aku dan Ajat membutuhkan waktu bersama. Ia beranjak menjauh.

“Jadi?” Pertanyaanku mengambang di udara.

“Yang mana?” Ajat menjawab sambil lalu. Sesuap sup krim zupa-zupa dimasukkan ke mulut.

“Apa yang kamu lakukan selama ini?”

“Banyak hal. Tapi semuanya selalu berhubungan dengan proyek kita dulu. Sejujurnya aku jengah. Tapi Tuhan seolah mengolok-olokku atas pertengkaran kita terakhir.”

“Sungguh?” Keheran. Lantas Ajat menatapku.

“Kamu boleh tidak percaya.”

Aku senyumin. Aku bersyukur pertengkaran terakhir dan waktu tidak melunturkan semangat Ajat.

“Berapa lama lagi kau butuhkan waktu untuk beristirahat?”

Ajat menggelengkan kepala seolah ingin mengenyahkan kegalauan hatinya.

“Selama yang dibutuhkan Karyo dan Isaac kukira.” Melihat reaksiku Ajat beranjak dari duduknya.

 “Kecuali kau menginginku cepat.” Ajat menambahkan.

“Sekarang?”

“Yang benar saja.”

“Bercanda. Bisa-bisa aku habis sama istriku.” Nada aku berubah serius.

“Selama di Jepang, aku menemukan banyak hal. Bukan hanya untuk menutupi kelemahan kita sebelumnya.”

“Kurang lebih, sama.” Ajat menyambar.

“Sepulang nanti aku akan mampir ke Dayang Sumbi.”

“Boleh. Sudah lama aku tidak mampir.”

“Aku ingin mengawali dari pertama kita memulainya.”

Mobil menepi. Aku menurunkan kaca mobil di sampingnya. Ajat sudah sampai sejak tadi. Ia sedang menenggak kopi kaleng. Ajat mendekat.

“Pilih. Mau kabar baik atau kabar buruk terlebih dahulu?”

“Baik.”

“Sejak kita terakhir meninggalkan, belum ada lagi yang mengontraknya.”

“Buruknya?”

“Itu karena sudah berganti kepemilikan. Orang yang aku tanyai tidak tahu siapa. Yang mereka tahu pemilik barunya belum pernah sekali pun datang. Ada kabar sudah meninggal. Ada yang bilang hanya untuk investasi saja.”

Aku memang sangat berharap bisa melanjutkan pekerjaan yang tertunda dari tempat ini berhenti. Akan tetapi, kegiatan mereka tidak seharusnya tidak terikat tempat. Kontrakan di Dayang Sumbi ini hanya salah satu latar bab pertama kami memperingatkan orang banyak akan bahaya patahan Lembang.

Tanpa ada kata kesepakatan mereka telah memilih melanjutkan apa yang belum selesai.

Lanjut ke: Media Bercerita – Universitas Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *