+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Puisi

Lanjutan dari: Sesar Lembang – Universitas Pertamina

Curah hujan bersaing

dengan alir rindu

menuju perasaanku

tidak mengalir, tidak meresap

            ke mana-mana

semua seolah diriku dituju

darimu, darimu!

Hujan gerimis turun di Bogor padahal hari masih pukul sepuluh. Aku duduk di bangku batu di bawah pohon beringin. Setengah hati berteduh. Kubiarkan saja jaketku basah. Tas, ditaruh di bawah dekat kaki. Hawa panas meluap dari gelas kopi yang tutupnya sedikit terbuka. Di hadapanku hanya buku yang terbuka tapi enggan rasanya aku membacanya, lebih baik kulayarkan anganku. Melamun.

Dari jendela kampus, seorang perempuan hendak menutup jendela. Ia terkejut melihatku. Ia menghilang dan kembali dengan ponsel di telinga.

Telepon berdering. Kusimpan  sembarang buku tersebut. Aku gelagapan mencari HP-ku, merabai saku celana, membuka tas, dan kemudian menyadari HP-ku ada di saku dalam jaket.

“Cepat berteduh!” perintah suara perempuan di telepon.

Aku melihat ke jendela, tersenyum, melambaikan tangannya.

“Kalau tidak basah bukan Bogor namanya.”

“Yakin tidak mau berteduh?”

“Seyakin suatu saat nanti Bandung akan rata.”

“Kau ini. Masih saja omong kosong.”

Aku hanya tersenyum. Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Menarik nafas panjang lalu berkata, “Bukumu.”

Saat itu Aku menyadari rupanya bukunya basah. HP kujepit pipi dan pundakku. Aku benar-benar khawatir. Kuusapkann bagian buku yang basah ke celanaku.

“Kantin. Tunggu aku di sana!”

Seluruh bangku di kantin tampak penuh. Udara terasa tumpang-tindih dengan berbagai aroma, cukup pengap juga bikin hidung gatal. Desis minyak di penggorengan, tumbukan spatula dan katel, derit bangku, dan obrolan berlomba memasuki gendang telinga. Seorang ibu berusia empat puluhan dengan pakaian khas ibu-ibu dan kupluk pengganti kerudung menaruh karedok dan minuman jeruk peras hangat di depan Riyani, seporsi ayam penyet pedas serta teh manis hangat di depanku.

“Terima Kasih,” ujar Riyani tulus yang dibalas dengan senyuman.

“Aku tidak menyalahkan siapa pun.” Aku melanjutkan obrolannya yang sempat tertunda.

“Kami sudah melakukan apa yang bisa dilakukan. Tidak pula mereka yang menganggap kami ambisius, penghayal, dan kekanakan. Tidak sepenuhnya salah. Bahkan aku menyadari kami memang terburu-buru. Naif.”

Riyani meletakkan garpunya. Menatapku lantas mencomot daging ayam dengan kemangi sebelum dimakan. Kami sudah bersama cukup lama dan baru kali ini aku harus mengakui kelemahanku. Fokus pada lempengan Bandung membuatku lupa untuk menghargai orang lain. Aku terjebak pada ilmuku sendiri, sombong. Menganggap orang lain bodoh, tidak tahu apa-apa.

So?”

“Aku mendukung keputusan Karyo. Kalau bisa, aku ingin yang lain mengikuti. Tidak apa aku di sini, sendiri.”

“Sendiri katamu?” potong Riyani.

Aku mengangkat kepalaku. Nada Riyani tiba-tiba berubah. Meninggi. Ia menyadari ada yang salah dari ucapan itu. Aku berpikir cepat mengingat apa yang sudah terkatakan. Berusaha sebisaku. Namun buntu.

“Bicaraku salah?”

“Mendatangiku tiba-tiba. Berbicara ini-itu. Dan kamu menyimpulkan kamu sendiri dengan mudahnya.”

Beruntung suaranya timbul tenggelam oleh suara bisik lain.

“Maksudku,”  berusaha menjelaskan.

Dengan nada menyerah dan tersingkir Riyani mengatakan, “Ya, kau sendiri. Seperti aku. Tidak ada kita. Hanya kamu. Sendiri.”

Riyani pergi meninggalkan aku sendirian.

Adegan itu bagai angin lalu. Tidak ada yang menyadari. Kecuali aku sendiri.

Aku setengah berlari menyusuri lorong yang sepi. Ini jam makan siang. Pegawai dan dosen masih berurusan dengan perutnya masing-masing. Aku tidak pernah masuk sejauh ini. Selama menyukai Riyani, paling dalam hanya di pintu ruangan staf.

Di depan sebuah pintu Aku berhenti. Ia melihat papan ruangan di atas pintu. Tanganku meraih pegangan pintu ragu. Namun pintu lebih terbuka dari dalam. Seorang lelaki berusia lima puluhan, mengenakan seragam, rambut pinggir rapi, dan menarik troli berisi alat pembersih ruangan dan gelas kotor.

“Mencari siapa?” Lelaki itu menyelidik. Dari gerakannya ia sudah siap melakukan pembelaan diri.

“Bu Riyani.”

“Asisten Prof Haryadi?”

“Ya.”

“Tunggu sebentar.” Lelaki itu masuk ke dalam beberapa saat. “Tidak ada. Mungkin sedang makan siang di kantin.”

Aku merespons dengan gelengan kepala.

“Coba ditelepon.”

“HP-nya mati.”

Lelaki itu melihat jadwal yang ditempel di mading. “Siang ini beliau ada kelas. Sebentar lagi. Silakan tunggu saja!”

“Terima kasih.”

“Atau mau titip pesan? Nanti akan saya sampaikan.”

Aku awalnya ragu. Lantas setelah melihat jam dan HP, aku makin resah. “Tolong sampaikan, hubungi saya secepatnya!”

“Baik. Akan saya sampaikan. Dari siapa?”

“Jantani.” Akupun pergi.

Di belakangnya, lelaki itu tersenyum geli. Menggelengkan kepala seolah permasalahan antara Aku dan Riyani sebuah guyonan. “Anak muda,” ujarnya sembari  mendorong troli menyusuri lorong.

Mataku menyusuri area parkir yang cukup luas itu. “Kenapa banyak sekali mobil putih,” menggerutu. Aku hanya punya ingatan tentang mobil Riyani, ketika pertama kali mengambil foto di TAHURA yang kemudian diletakan di dash depan mobilnya. Tidak  mungkin bisa dilihat dari luar. Kenapa aku mudah sekali lupa akan sesuatu yang berhubungan dengan Riyani. Akan tetapi hal itu tidak membuatku urung untuk terus mencari Riyani.

Satu persatu mobil putih dicek. Tidak peduli merek atau adakah orang di dalamnya. Satu-dua alarm mobil menyala karena merespons sentuhanku pada tiap jendela mobil-mobil. Perilaku itu ternyata menarik perhatian seorang keamanan yang sedang bertugas di posnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu curiga. Inilah dampak dari aku mengabaikan kenyataannya, bahwa gerak-gerik kali ini menarik perhatian orang. Setelah petugas kebersihan, kini petugas keamanan.

“Aku mencari mobil Riyani.”

“Siapa? Anda ada kuncinya?”

“Tidak,” sambarku polos, sambil terus berjalan mengecek satu persatu mobil berwarna putih.”

“Pak!” Kini suaranya meninggi. Sigap tangannya melepas penahan pentungan. Siaga. “Bisa saya melihat tanda pengenal Anda!”

“Bisa. Nanti.”

“Saya ulangi. Pengenal Anda.”

“Bantu aku temukan Riyani!”

Dengan gerakan cepat petugas itu memiting tanganku yang tidak siap mendapatkan serangan. Tas dan ponselku jatuh.

“Apa-apaan ini?” Aku terus berontak. Di pikiranku hanya ingin secepatnya bertemu dengan Riyani.

“Diam!” Petugas itu makin tegas. Melalui alat komunikasi ia meminta temannya segera datang. Seorang datang membawa langsung memegangi kedua tanganku, layaknya seorang kriminal. Tanpa sengaja ponselku terinjak. Mendapati itu tentu aku semakin berontak. Seorang petugas menekan punggungku dengan lututnya.

Orang mulai berdatangan. Mengerumuni kami. Semakin lama aku semakin menyadari Riyani semakin jauh, semakin kecil aku bisa memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukan. Gerakanku mengendur. Tidak melawan. Pasrah. Dingin sisa gerimis merayap dan mencengkram ke dalam dada.

Riyani menelungkupkan tangannya ke setir mobil, kepalanya tenggelam. Kaca mobilnya yang tebal membuat suara di luar tidak ada yang masuk. Hanya terdengar isak tangis dirinya sendiri. Biasanya ia akan mengeluh panas dan pengap akibat paparan sinar matahari ke mobilnya. Namun kali ini hatinya lebih perih.

Sekali pun ada orang yang melihatnya dari luar, mereka tidak akan menyadari Riyani menangis sejadinya. Ia meluapkan perasaannya yang selama ini mengendap.

Terdengar suara bip tiga kali dari jam tangannya, mengingatkan ia untuk masuk kelas. Tapi kali ini ia ingin sendiri dulu. Tidak mungkin mengajar di depan mahasiswa dengan riasan luntur, rambut berantakan, dan hati yang terluka.

Tanpa sengaja ia melihat ke jendela samping. Di kejauhan ia melihat kerumunan orang. Lalu dua orang keamanan mengapit seorang yang terikat keluar dari kerumunan. Ia hafal betul tas yang dijinjing seorang petugas. Tersentak, ia menghampiri mereka.

“Jantani!” Riyani memekik, air matanya meleleh. Tapi berbeda dengan yang sebelumnya. “Kenapa kamu?”

“Mereka tidak percaya aku mencarimu.” Aku tersenyum karena ternyata Riyani-lah yang menemukanku. Walaupun dengan keadaan yang menyedihkan.

“Aku kenal dia. Dia sahabatku.”

“Bisa meminta tanda pengenal Anda?”

Riyani memberikan kartu pengenalnya. Menyadari kesalahannya, petugas itu melepaskan pegangannya.

Riyani meraih tanganku. Digenggamnya tangaku erat dan tanpa berkata apapun.

Ruang tamu dan ruang dalam disekat rak kaca berisi pernak-pernik dari luar negeri. Semua milik Riyani yang ia kumpulkan sejak kecil. Pertama kali aku datang merasa sedang memasuki toko cinderamata yang banyak di sepanjang jalan Kota Tua, Braga. Dalam keresahan atas kesalahan, aku  menyadari bawah tak ada satu pun hadiah dariku.

Perlakuan Riyani kepadaku bukan yang pertama kali. Namun kali ini terasa berbeda. Aku merasakan ketelatenan Riyani memberi perhatian lebih dari sekedar basa-basi.

“Prof Haryadi, bagaimana kabarnya?” tanyaku mengalihkan.

“Heran. Tidak biasanya aku meninggalkan kelas.”

“Begitu saja?”

Riyani menatapku.

“Harusnya?”

Ketimbang menjawabnya, Aku malah meminta maaf. “Tidak seharusnya aku mengabaikanmu. Kamu selalu ada buat aku. Tapi aku, bahkan ketika kita berdua, seringnya aku menghiraukanmu.”

Mereka saling menatap

Setelah lama, Riyani berbisik di telinga Jantani, “Kamu jahat. Ke Bogor hanya untuk membuatku menangis.”

“Mungkin. Awalnya begitu. Kini, aku berubah pikiran. Aku ingin membuatmu menangis lagi. Dengan alasan yang lain tentunya.”

“Apa itu?”

“Aku ingin bertemu kedua orang tuamu.”

Lanjut ke: Reuni – Universitas Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *