+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Sesar Lembang

Lanjutan dari: Kota Kembang – Universitas Pertamina

Ia kembali teringat masa-masa duduk di bangku SMA. Jantani seorang pemalu, dan tak percaya diri. Riyani seolah perempuan yang punya kemauan untuk mandiri, punya keyakinan yang kuat dan tak mau mengambil pusing soal urusan asmara khas remaja, saat itu. Bukan, bukan pula Jantani terbebani untuk mendapatkan sang pujaan hati, Riyani. Dalam kesempatan, sekali-dua kali mereka pernah bertatapan, beradu pemikiran dan sebenarnya masing-masing memiliki perasaan yang sama. Gempa perasaan yang makin lama terasa getarannya.

Hanya saja, keduanya sama-sama keras kepala. Jadi perlu takdir dan nasib yang akhirnya membuat mereka berdua jera. Dipisahkan, alias jarak antara Bogor dan Bandung-lah yang mempertegas urusan mereka. Ya, bukan lagi urusan bersahabat biasa. Mungkin bisa disinyalir, arus dan ledakan cinta.

Dalam hal paling mengesankan ialah sosok Ajat. Punya sikap dan rencana yang paling rapi di antara yang lainnya. Maka tak heran jika penampilan ajat sudah bisa ditebak. Ia selalu mengenakan kemeja polos yang sudah disetrika licin dengan celana panjang satin lengkap dengan garis lipatan terukur dari ujung ke ujung lainnya.

Kalo aku sudah mendapatkan belahan jiwaku sepertinya aku harus cepat cepat meninggalkan Bandung.

memang kenapa

aku tak bisa membiarkan ia menghadapi kecemasan atas apa yang kota ini kandung.

Ah kamu ada ada saja

Iya sukajadi lain deh

Bukan karena memang kenyataannya aku sudah harus memikirkan semua itu

Sudahlah jam penting kamu dapat dululah pasangannya

Mendadak aja terperanjat  dengan pernyataan Karyo yang  yang serasa meledeknya itu.

Akan menjadi lebih berwarna, bila memandang Isaac yang meledak-ledak seperti juga pilihan jurusannya di kampus. Benar saja, Isaac telah berkali-kali jatuh cinta pada perempuan yang sama secara tabiat dan karakter. Alangkah berbalik dengan dugaan yang melekat seperti wataknya. Perempuan yang selalu ditaksirnya, ternyata perempuan yang pendiam. Bisa jadi tak begitu mengherankan, soal selera siapapun boleh menentukannya tanpa ada campur tangan penilaian. 

………………………………………………………………..***********************……………………………………………………….

Di hadapan publik untuk pertama kali, kami merasa seperti disudutkan. Setelah berbagai macam alasan kami menjelaskan secara runut dan detail apa saja yang bisa terjadi dengan Sesar Lembang.

Seorang pengusaha yang merasa terganggu oleh penemuan kami, malah menganggap kami hanyalah kumpulan dosen skizofenia. Aku sendiri sebenarnya ingin sekali melemparnya dengan sebotol air mineral yang ada di meja tepat ke wajahnya. Tetapi mana bisa, itu hanya akan membuat membenarkan seluruh tuduhannya.

Wartawan-wartawan yang hadir, malah lebih gila lagi. Mereka semua seolah sedang mempermalukan kami.

“Apakah ini hanya isu untuk menakuti warga Bandung?”

Tentu kami semua benar-benar dibuat geleng-geleng dengan pertanyaan yang lebih mirip sebuah penyangkalan atas apa yang telah kami usahakan selama ini.

Sirna sudah semangat di wajah Isaac. Hampir saja, jantungku copot juga. Karyo yang sejak awal, punya persediaan kata-kata untuk dikeluarkan dari mulutnya, mendadak lidahnya tercekat.

Ruangan itu mendadak sempit. Suasana memanas di antara pergumulan dan temuan. Satu dengan yang lainnya mengajukan alasan dengan berbagai bukti di tangan mereka. Aku tak bisa mengindahkan satu-persatu apa yang diinginkan.

Dan suhu udara terasa naik seketika. Setelah selesai membeberkan temuan kami, di ruang berbeda kami akhirnya memutuskan berkumpul.

“Jadi sejak kapan kita percaya pada bencana yang akan tiba-tiba menimpa Bandung?” Ajat memberanikan diri angkat bicara. Ia mengulang pertanyaan yang sebenarnya ditanyakannya semenjak tim ini mulai semakin menemukan perbedaan pada temuan.

“Begini, persoalan Patahan Lembang terlalu menakutkan bagiku. Sebelum kita terlalu jauh, kita harus tahu, kita bukan berjuang untuk keragu-raguan.” Isaac akhirnya melontarkan kalimat yang bisa membuatku, juga Ajat tersentak. Dirinya masih lebih peduli pada aktivitas vulkanik.

“Tapi aku lihat, hanya diriku yang memiliki minat dan kepedulian yang lebih. Yang lain hanya bisa membantah dan membuat aku merasa tak diperlukan.” Ajat menimpali Isaac sembari membuang muka.

“Siapa yang menganggapmu demikian?” Isaac seolah menyuruh Ajat untuk tetap fokus.

“Kau merasa saja, sendiri.” Begitulah Isaac kemudian menambahi.

“Iya, naif!” Karyo tak disangka-sangka menyeruak, suaranya yang berat seperti memecahkan keheningan yang dikandung dalam dirinya.

Layar masih menunjukan grafik yang sama. Satu sama lainnya tak ingin menatap lebih dari dua-tiga detik. Mereka semua dan termasuk diriku mungkin juga tak kuasa saling mercerna tiap-tiap ekspresi.

“Begini, semua data yang masing-masing di-input dan dipresentasikan bukan berarti sia-sia.” Aku berusaha menenangkan.

Aku masih menahan diri untuk tak berkomentar. Aku takut justru ucapanku menjadi minyak yang menambah besar nyala api. Tapi rupanya, api sudah terlalu besar. Ajat dan Isaac masing-masing merasa jadi orang yang tak dihargai. Satu sama lain saling melempar serangan. Karyo semakin sering menenggak minuman di botol mineral miliknya,  seiring dengan debat kusir mereka.

Tiba-tiba Karyo melemparkan amplop cokelat dari dalam tasnya. Aku memeriksa isinya.

“Surat itu sudah lama aku terima. Satu-satunya yang menahanku adalah kalian. Tapi kini aku merasa alasan itu sudah tidak ada lagi. Respons peserta seminar tadi hanya cukup membuatku merasa bodoh karena lalai mengumpulkan ini dan itu.” Karyo menenggak habis air dalam botolnya.

 “Namun dagelan kalian di hadapanku meyakinkanku untuk pergi selekas yang aku bisa.”

Ajat merebut kertas di tanganku tanpa ia sadari.

“Pergi?” tanya Isaac terkejut. “Ke mana?”

“Jepang.” Aku menjawabkan.

“Undangan langsung dari pemerintah Jepang.” Ajat menambahkan setengah bergumam.

Aku mengembuskan nafas panjang. Sekali pun aku menduga hal ini bakal terjadi tapi rasanya tetap saja menyakitkan.

“Satu-satunya yang berengsek di sini itu kau.”

“Kamu benar, Isaac.”

“Dan kamu pergi begitu saja ketika kami di sini terpuruk?”

“Sudah kukatakan selama ini aku menahan diri karena kalian.”

Isaac dan Ajat terus berupaya agar Karyo meralat keputusannya. Akan tetapi Karyo kukuh. Ia sudah memutuskan untuk pergi.

“Bagaimana ini Jantani? Jangan cuma duduk. Bantu kami!”

“Tidak ada yang bisa menghentikan manusia seperti Karyo. Ia pasti sudah memikirkannya matang. Jika ia sudah memutuskan, hanya Tuhan dan dia sendiri yang bisa mengubahnya.”

“Begitu saja?” Ajat terkejut atas jawabanku yang pasti di luar harapannya.

“Kita sudah banyak melewati kesusahan. Selama itu pula kita selalu menyelesaikannya bersama-sama. Tapi siang tadi berbeda. Itu tidak seperti yang sudah-sudah.”

“Aku rasa selama ini terlalu berlebihan menilaimu.” Ajat menyulut rokok. Padahal dia sudah lama berhenti merokok, hanya kalau kesal tiba-tiba dia berulah.

“Itu intinya. Aku, kamu, Isaac, Karyo, semuanya bukan siapa-siapa.” Aku mengedarkan pandangan, bertanya ke mata mereka. Semua menunduk.

“Kita tidak cukup kuat untuk didengar. Data-data yang kita kumpulkan lemah, subjektif, ambisius, dan sembrono.”

“Aku rasa itu tidak membantu apa-apa, Jantani.” Karyo menanggapi.

“Karena itu aku mendukung keputusanmu. Pergilah! Jangan jadikan kami penghalang. Hanya satu pesanku. Beri tahu kami jika ada yang berhubungan dengan apa yang kita kerjakan selama ini.” Kemudian aku bangkit, meraih kunci motor dan jaket. Sebelum keluar ruangan, aku berkata, “Ada yang mau ngopi bareng?” Semuanya bergeming.

Setiap jarak menjauhi mereka semakin aku memupuk bahwa yang ada awalnya tiada dan akan kembali pada ketiadaan.

Aku melihat perpecahan pada tim ini, bukan semata-mata kesalahan perorangan. Bagiku, ini adalah memang jalannya. Banyak hal yang tadinya, kami–bahkan aku mengira sendiri akan mudah, pada kenyataannya telah menjadi tembok sekaligus benteng penghalang.

Aku mulai jarang, meminta berkumpul lagi dengan mereka. Aku mulai enggan mengajak mereka bertemu hanya karena takut salah satu dari mereka mengira aku mempermainkannya.

Menjelang libur, dan setiap pekerjaanku di kampus bisa ditangguhkan, aku memilih untuk menenangkan diri. Pulang, menurutku bisa memberikan sedikitnya inspirasi, atau sekadar melupakan.

Sudah lama aku tak mengunjungi seseorang di kota hujan, kelahiranku. Mungkin sudah waktunya aku mulai melunak atas apa yang selalu menjadi mimpi besarku, harus tertunda dan tak mesti besok-lusa terjadi.

Tiket travel sudah di tangan, sesekali melihat ke HP dan ingin satu-persatu kukabari, kalau aku pulang kampung. Tapi perasaan itu mendadak menjadi aneh dan menahanku untuk memilih diam.

Lanjut ke: Puisi – Universitas Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *