+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Waktu

Sebuah Novel. Cerita berseri sampai akhir.

Aku selalu membayangkan 10.000 tahun yang lalu, jauh sebelum aku harus berdiri sebagai laki-laki yang segalanya telah terasa jadi milik Bandung. Jadi dipenuhi rasa nikmatnya dikejar-kejar irama bekerja. Kubayangkan 10.000 tahun lalu, manipulasi keindahan yang dimiliki sunyi terbentang. Di bagian terdalam bumi, tersimpan jauh energi dan tak ada satu pun yang peduli. Karena di atasnya, binatang-binatang hanya mengambil apa yang diperlukan mereka untuk menjalani hari-hari mereka. Tanpa ketakutan suara mesin gergaji yang siap menumbangkan satu-satu pohon. Dan sungai menjalar, memilih jalannya sendiri. Menyeberangkan banyak berkah dari satu tanah ke tanah lainnya demi kehidupan yang belum terpetakan.

Ah, Bandung, itu dulu. Sebelum akhirnya pertumbuhan kota ini telah menyisipkan aku ke sebuah Kampus, tepat di tengah-tengahnya. Banyak yang diwariskan Bandung kepadaku, juga kepada setiap orang yang percaya, bahwa di sepanjang Timur ke Barat, ada jurang yang terbentang. Jurang itu seperti akan terus mengintip dan siap menerjangku. Aku, tentu selalu merasa akan senantiasa diintai olehnya.

Perkiraanku saja, dan masih dalam rangka membayangkan kembali apa yang telah terjadi dari setiap inci demi inci kemudian memuai menjadi sebuah pertunjukan sampai detik ini. Kota Bandung, luar biasa menguasai seluruh keingin-tahuanku. Danau purba yang kini beralih menjadi sebuah kota paling indah–setidaknya begitulah bagi banyak orang yang kukenal. Gunung-gunung yang dahulu mengepung dan menjaga misteri kini telah terbelah oleh jalan-jalan yang awalnya setapak, menjadi tol dan mengirimkan banyak orang ke surga nyata ini.

Seperti yang pernah kuketahui dari awal, Bandung mempunyai garis lurus yang sangat jelas memperlihatkan ada sayatan berarah dari barat ke timur. Mungkin itu juga awalnya, dalam diriku ada penasaran yang membelah jadi dua dalam jiwaku. Antara ingin segera keluar dari Kampus ini dan menemukan penghidupan yang baru. Menemukan tantangan seperti apa, jika aku berusaha memindahkan perhatianku.  Atau satu lagi, justru tetap menahan kakiku untuk tetap berlama-lama di Kampus ini dan membantu memberi setangkup ilmu kepada mahasiswa-mahasiswa yang hilir-mudik masuk. 

Kadang percaya, kalau langit yang di atas sana terbentang memantulkan gambaran bukan hanya sekadar sebuah citra yang menampakan fault scrap dengan dinding jurang menghadap ke arah utara. Tapi lebih besar dari seluruh minatku, untuk menjelajahi bumi yang tak sebatas pandang. Apa daya, percuma.  Kira-kira panjangnya hanya duapuluh sembilan kilometer. Ya, mau tak mau duapuluh sembilan kilometer itulah ternyata adalah jalan takdir terpanjang yang diberikan Tuhan kepadaku. Sebab di sepanjang garis itulah telah tertanam diriku:  seluruh perhatianku. Apa yang masih tertidur di sepanjang duapuluh sembilan kilometer itu, Wahai Bandungku?

Di antara peralatan laboratorium diriku selalu merasa nyaman. Tak peduli pada debu-debu dari batuan di sekitar meja dan kursinya atau pada lumpur mengering di lantainya. Peralatan dari besi, gelas kimia, dan sesekali kertas foil yang mengkilap tertempa matahari yang masuk sinarnya lewat jendela, semakin membuatku merasa betah. Aku selalu bisa duduk manis, mengamati mahasiswa S1 yang praktik, hilir-mudik. Mungkin itulah, caraku merawat sesuatu dalam kepala tentang mimpi yang selalu merayap hari demi hari. Seakan-akan alat-alat itu pun bicara dengan cara sendiri. Menguntitku ketika keluar untuk segera melakukan sesuai dengan apa kata hatiku dari dulu, ya, tentang penelitian Sesar Bandung. Bisa dimulai dari kepekaan terhadap membaca gejala tanah, air dan bebatuan. Perlahan tapi memberi isyarat, aku semestinya juga hanyut dan lebur kembali dalam pergulatan yang lebih dalam. 

Kang Jantani, bolehkah masuk?” Seorang mahasiswa permisi padaku, dan membuyarkan lamunanku.

“Silakan!” Kujawab agak terlambat.  Mahasiswa itu sudah kepalang masuk seraya membungkukan badannya.

Aku sudah lama ambil bagian menjadi asisten di lab, di kampus yang dulu memberi dahaga ilmu sampai keluar sebagai pemenang di kelulusan. Tetapi sungguh pun, toga telah dipasang dan gelar telah disematkan, rasa kuatirku tak pernah berkurang. Ada yang mesti diteruskan, dan tak berhenti langkah walau berat dan banyak rintang menghadang.

“Jantani Bachrudin!” Masih terdengar namaku disebut lewat pengeras suara itu. Hari di mana telah kuterima gelar S2 yang awalnya tak pernah terlintas juga terbayangkan sewaktu masih kecil di sebuah kampung pelosok di kota hujan.

Menjadi magister pencegahan dan penangan bencana bukanlah apa yang pernah tergambar di kepala anak kampung sepertiku dulu. Jauh sekali dari masa kanak-kanakku yang hanya mengenal perkebunan dan pasar. Mungkin sudah bisa bertani di kampungku, atau cukup membuka warung kelontong pun sudah sangat membanggakan. Tapi kini, gelar ahli dengan magister di belakang namaku membuat aku tahu, hidup punya cara jalan sendiri memberiku kado kebahagiaan yang tak terkira.

Aku bisa menegakkan kepalaku yang dulu terbiasa tertunduk saat melewati kebun milik orang. Aku bisa mengantar ibu ke pasar dan tanpa kuatir membeli sayuran dan daging yang selalu merangkak harganya. Kota hujan yang dulu hanya kunikmati dari pinggiran, tiap kali pulang kampung, kini aku sudah merasa telah menaklukannya.

Ah, adapun tentang cinta pertamaku di kota hujan itu, rasanya tak pernah benar-benar selesai kukenang.

“Ingatan dan Cinta

selalu menjadi fosil

yang tiada pernah berhenti

meminta kita, menggali dan menggali

lebih dalam lagi dalam hati ini”

Di kampus, Cekungan Bandung sudah tentu menjadi buah bibir yang sangat nikmat jika sedang dibahas. Hal ini tak terlepas dari seorang mahasiswa doktoral yang limabelas tahun lalu fokus mengangkat kembali lempengan yang ada di perut bumi, tepatnya di Bandung. Juga tentang kemungkinan-kemungkinan yang pernah terjadi, ribuan tahun lalu, puluhan ribu tahun sebelum pikiran-pikiran manusia punya pertanyaan ‘apa yang terjadi pada pembentukan bumi purba ini?’.

Awalnya, aku dengan teman-temanku yang lain terbiasa mendengarkan itu sebagai angin lalu. Hanya percakapan di permukaan, dan lebih terasa dilebih-lebihkan.

“Ah karena Gunung Tangkuban Perahu berhadapan saja dengan kampus ITB.” pikirku lugu dulu.

“Iya, jadinya hanya itu yang bisa kita susupi pertanyaan.” Temanku waktu itu menimpali.  Masih duduk di semester satu dan belum mengerti tentang gairah sebenarnya soal meneliti.

Aku pun meneruskan rutinitasku, bergumul dengan mencatat di kelas; dari satu dosen ke dosen lain, kemudian membaca untuk dapat menyelesaikan tugas dan ujian. Sesekali memikirkan siapa yang bisa kuajak jalan, ya sudah tentu seorang perempuan istimewa pada waktunya.

Namun seiringnya berjalan waktu, kulihat gedung-gedung yang berdiri di kampus kini mulai berubah. Pemugaran, restorasi di mana-mana, issu-issu mulai bergerak cepat tak menyisakan untuk mereka yang malas dan berpikiran sempit.

Mula-mula aku mulai selektif memilih berteman, lebih banyak menyendiri bila perlu. Dan suatu waktu, aku memutuskan menjadi bagian sebuah mesjid di seberang kampusku. Ada hal yang menyejukkan dan sekaligus memberiku ketenangan. Di sana, aku merasa menemukan apa yang selama ini kucari. Kadang-kadang aku merasa seperti pulang ke rumah ke dua.

Setiap kali aku harus menatap tugas terakhirku, sebagai mahasiswa  pascasarjana Teknik Geologi, selalu membayangkan bagaimana jika membangun Bandung di atas endapan danau purba.

Hal-hal mengenai Cekungan Bandung, kini lebih terasa nyata di depan mataku. Dulu, semasa duduk di bangku kuliah sarjana–semua itu masih terasa samar dan jauh. Berjalannya waktu, aku pun sudah semakin tahu apalagi menjadi asisten akademik di lab membuatku mengerti tentang tantangan apa yang harus kuterima di depan sana.

Setiap akhir pekan, aku menenggelamkan diri dalam penelitian-penelitian. Orang selalu berpikiran lain mengenai kata ‘penelitian’. Kata itu seperti sebuah pertapaan memasuki sebuah gua, mengasingkan diri dan suntuk dengan rumus-rumus, untuk kemudian menemukan hasil yang ‘bom’ luar biasa. Bagiku, berbeda dari hal yang mengerikan dan seperti dalam film-film Hollywood. Karena yang benar-benar aku kerjaan ialah membaca kembali apa yang pernah bumi dan semesta berikan pada kita. Sebagai isyarat, pertanda dan menuntun kita berbuat apa sebaiknya di masa depan. Apalagi kini aku sering terlibat dalam berbagai macam lokakarya dan pelatihan rekayasa bangunan di kantor kementerian.

Setiap tahunnya, berapa puluh ribu rumah-rumah dibangun tetapi harus waspada terhadap ancaman bencana. Bisa saja sebuah banjir besar menerjang, sebuah gempa berkekuatan tinggi merubuhkannya, atau tiba-tiba longsor harus menggusur seluruh rumah-rumah di sekitaran lembah. Atas pertimbangan itulah aku merasa harus memikirkan bagaimana menciptakannya sebuah fondasi yang kuat. Demi kenyamanan hidup aku harus memikirkan semua itu, sebagai perwujudan dari apa yang selama ini aku sebut memberdayakan ilmu. 

Berlanjut ke: Goresan Panjang – Universitas Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *