+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Kota Kembang

Lanjutan dari: Penelitian Alam – Universitas Pertamina

Bandung tak cukup menampung banyak orang-orang di akhir pekan, seperti sebuah kota yang diserbu dari berbagai penjuru. Mereka memburu Bandung dengan berbagai alasan. Menciptakan pintu masuknya sendiri, memadatinya di antara jalan-jalan tol dan kendaraan pun terjebak macet di jalanan.

Para warga yang juga merupakan pengusaha, membangun citra kreatif sebagai pusat anak-anak muda. Kuliner-kuliner diciptakan, restoran dan tempat wisata bermunculan menjaring orang-orang untuk lebih berminat memasuki kota Bandung setiap akhir pekan.

“Bandung itu tempat bulan madu yang tak pernah berakhir,” kata sepasang pengantin yang baru menikah beberapa bulan lalu.

Tentu aku tersenyum mendengar tersebut. Di sebuah travel perjalanan pulang ke Bandung di jalan Tol, mereka berdua mengibaratkan Bandung sebuah kota yang masih bisa dijangkau untuk memenuhi pengharapannya.

Sepulang rapat dan membawa misi presentasi kepada para sahabat di UI, aku menatap keluar kaca jendela mobil. Rupanya Bandung tinggal beberapa kilometer lagi. Dalam hati, terkesima dengan kecintaan orang-orang terhadap kota kembang ini. Namun sisi lain hatiku, bergemuruh.

Ada yang tak bisa disembunyikan setiap kali lanskap Bandung terlihat. Penuh misteri yang dengan sesuka hatinya, terus saja membikin perseteruan batin dalam diri ini.

Memasuki masa kepindahan kekuasaan Kota Bandung di tahun ini, suasana kota pun sangat memanas. Di setiap sudut kota dan jalan-jalannya bermunculan gambar-gambar pencalonan walikota. Acara-acara di mana-mana mulai terasa marak dan ramai.

Aku merasa semakin asing dalam keasyikan orang-orang kota. Bergumul dengan para tim, dan menenggelamkan diri di antara kertas-kertas data dan layar serta hitungan yang terus setiap saat mesti dijaga. Aku merasa takut ini bukan waktu yang tepat untuk menyampaikan apa yang bisa terjadi di Bandung.

Ajat, terlihat semakin yakin kalau apa yang didapatkan oleh kami harus segera dipublikasikan. Dia tak punya ambisi lain, bagi dirinya sesegera mungkin mengantisipasi hal buruk yang menimpa.

Di lain sisi, Isaac malah sudah lebih dulu mengusulkan kepada Pemerintah Bandung segera mensosialisasikan temuannya. Bahwa Gunung Tangkuban Perahu dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, berpotensi meletus. Bersama dengan segala akibat yang bisa menghampiri penduduk Bandung, Isaac mengusulkan kawasan untuk mitigasi bencana. Beberapa persiapan, masker untuk mencegah bahaya kandungan gas dan sulfur, bisa saja kedua saling mengintai disemburkan Gunung Tangkuban Perahu.

Aku dan Ajat sebenarnya sudah mengusahakan agar apa yang ditemukan Isaac bisa sampai ke meja yang bisa lebih resmi ditanggapi. Sungguh pun aku dan Ajat lebih mencemaskan gempa, kami tak ingin mengesampingkan segala hal yang buruk bisa menimpa.

Keinginan Isaac diamini oleh Karyo. Apalagi sejak semula Karyo menemukan kenyataan Bandung sudah tercemar. Bagaimana pun kota Bandung selalu dipandang sebagai tempat wisata terbaik, satu sisi mungkin benar. Namun di sisi lain, Bandung pun harus diberi perhatian atas apa yang bisa terjadi.

Pembangunan kota di mana-mana, tanpa memerdulikan lingkungan adalah langkah buruk dari manusia yang merasa mampu menghuni dan memeliharanya. Tapi diam-diam jiwa mereka tanpa perasaan ingin merawat apalagi mencintai mengesampingkan setiap pengetahuan dan tanggung jawab. Isaac dan Karyo pun mulai berani main hitung-hitungan kasar, yang merunut pada penelitian.

“Bayangkan saja!” Isaac bersungut-sungut pada Karyo, saat mereka berbincang tentang gebetannya satu sama lain tapi masih menyambat pokok bahasan sesar.

“Sekitar satu kilometer patahan aktif di Indonesia di atasnya ada 2892 bangunan sekolah, 40 rumah sakit dan 126 puskesmas.” Tambah Isaac dalam kalkulasi yang ia dapatkan dari data terkini.

“Juga 4 juta jiwa yang hidup di area tersebut.” Karyo tak mau tampak ketinggalan soal pengetahuan data langsung menyambut.

Keduanya seperti janjian menepuk jidat dengan telapak tangan.

Lanjut ke: Sesar Lembang – Universitas Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *