+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Bagaimana Memulai Menulis?

Penulis (saya) berkesempatan menemani acara dalam salahsatu webinar penutup sebuah perlombaan menulis cerita pendek. Pada saat itu tahun 2021 awal, narasumber adalah penulis yang terbilang terkenal di bidang kepenulisan, setidaknya sering kolaborasi dengan penulis-penulis kawakan di Bandung dan sering mengkonsep untuk sebuah pementasan teater. Latarbelakangnya adalah dari sastra Indonesia. Penulis juga berkesempatan mendengarkan banyak hal sepanjang webinar yang berlangsung daring tersebut.

Dari mana kita memulai menulis? Sebuah pertanyaan klise yang jawabannya juga akan klise.

Webinar dimulai dengan sebuah insight bahwa menulis itu sudah dilakukan semenjak dahulu kala. Dari menulis di batu, pelepah, daun, dan medium lainnya. Hingga kita mengenal menulis di kertas. Kalau era disruptif sekarang, kita sering menulis status atau bahan curhatan di media sosial yang tentu sangat banyak sekali platformnya.

Narasumber berbicara bahwa pekerjaan menulis sebenarnya adalah pekerjaan yang dilakukan semua dari kita. Setiap hari. Gaung media sosial nampaknya telah membuat orang menjadi “latah”. Berdoa di media sosial, curhat di media sosial, setiap hari kita “laporan”. Meski tentu ada sisi balancing dampak positifnya. Di kesempatan lain, penulis pernah mendapat sebuah ungkapan. Seandainya tulisan atau postingan yang kita ketik di Beranda Facebook selama setahun kemudian disusun, maka setiap orang bisa menghasilkan satu buku. Satu buku satu tahun. Pekerjaan yang seolah mudah.

Kita bisa menulis dari yang terdekat. Mulai dari yang ada di sekitar kita. Fenomena atau ungkapan perasaan yang sedang kita alami.

Jika dipikir-pikir setiap film dengan kecanggihan teknologinya saat ini, banyak bermula dari novel atau tulisan-tulisan. Sebelum digarap menjadi sebuah film. Menulis di kertas masih menjadi budaya. Penulis tempo hari mendengar dari seorang kawan jika seorang penulis, jika tidak bisa disebut sastrawan dan budayawan, bisa “memprediksi” kondisi sosial budaya di masa depan. Berdasar kondisi yang terjadi di masyarakat saat ini yang mana kondisi tersebut “diproyeksikan” secara progresif ke masa depan. Tuturnya, ada beberapa buku lawas yang menuliskan ini. Tentang apa yang akan terjadi di permulaan awal abad 21. Tentang kecanggihan komunikasi via telepon pintar misalnya.

Apakah mungkin, film-film yang kita lihat saat ini dengan penggunaan CGI sebagai efek visual di kemudian hari akan terwujud teknologi fisiknya (tidak lagi menggunakan CGI). Narasumber juga menyampaikan bahwa ke depan, jika seseorang ingin membaca novel, tidak lagi lewat halaman kertas, cukup disuntikkan sebuah cairan ke otak dan kita bisa meresapi isi dari sebuah novel. Juga, teknologi hologram di masa depan yang akan “memanjakan” manusia. Layar-layar komputer yang menggunakan hologram dari seretan di tangan atau yang tertanam di kacamata.

Sebelum munculnya teknologi komunikasi, mungkin orang tidak terbayang bagaimana manusia bisa berbicara dari satu penjuru ke penjuru dunia yang lain.

Jika tertarik menyimak, bisa disaksikan pada webinar di tautan Youtube berikut ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *