+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Pengembangan Soft Competency di Universitas Pertamina

Pengembangan Soft Competency di Universitas Pertamina

Oleh :

AM. Unggul Putranto

Visi Universitas Pertamina sebagai universitas kelas dunia perlu dukungan dari berbagai aspek secara menyeluruh, dari sisi infrastruktur, jaringan atau network, manajemen, kualitas dosen dan tendik, materi pembelajaran, kualitas dan implementasi Tri Dharma, system yang mendukung dan sebagainya.  Salah satu aspek yang belum banyak disentuh adalah pengembangan soft competency.

Identifikasi kompetensi umumnya dikaitkan dengan pengembangan SDM.  Sudah jamak hal ini dilakukan di perusahaan.  Kompetensi juga sering disebut sebagai skill, namun karena penamaan kompetensi banyak yang menggunakan “skill”, dalam tulisan ini saya menggunakan terminologi “kompetensi”. Di Pertamina dikenal ada dua macam kompetensi, hard competency dan soft competency.  Yang dimaksud dengan hard competency adalah kemampuan teknis yang minimal harus dimiliki oleh pekerja. Sedangkan soft competency merupakan sifat atau trait yang harus dimiliki seseorang sehingga kinerjanya di organisasi bisa dibedakan dengan orang lain. Sebagai ilustrasi sederhana, apa yang membedakan taxi warna biru lebih dicari dibanding taxi warna merah, meskipun tarifnya lebih mahal ?  Menjadi sopir tidak hanya bisa mengendarai setir, mengoper gigi persneling dengan halus, paham rambu-rambu lalu lintas saja, ada yang lebih penting dari itu. Yang berperan di sini adalah keramahan para drivernya. Keramahan yang dalam bahasa kompetensi kita sebut sebagai “communication skill” ini merupakan soft competency yang dikembangkan atau dimiliki oleh perusahaan. Identifikasi kompetensi ini menjadi tools ketika mereka melakukan rekrutmen drivernya, setelah ditanyakan persyaratan dasarnya yaitu mempunyai SIM A.

Apa itu soft competency ?

Kalau hard competency atau hard skill merupakan kemampuan intelektual yang melekat saat seseorang menjalani proses belajar, soft competency merupakan serangkaian kemampuan yang sifatnya non teknis yang perlu juga dikuasai agar seseorang lebih mampu beradaptasi dalam lingkungannya.  Penguasaan yang baik atas serangkaian soft skill atau kompetensi diharapkan akan menjadi pembeda  dibandingkan orang yang tidak mengembangkan kompetensinya. Pada akhirnya penguasaan atas sejumlah kompetensi tesebut akan menjadi sifat atau traits seseorang. 

Saya pernah melihat kompetensi yang dipersyaratkan suatu perusahaan perakitan otomotif dari Jepang, jumlahnya lebih dari 100 jenis kompetensi. Mereka menggunakan competency dictionary itu untuk berbagai keperluan,  dmulai dari rekrutmen, penilaian kinerja, penempatan karyawan dalam organisasi, training need analysis dan sebagainya.  Metode pengukuran kompetensi pun sangat beragam, dari assessment center untuk mengukur apakah seseorang fit di suatu jabatan manajerial, sampai penilaian 360 derajat.

Dalam tulisan ini, saya membatasi pada kompetensi yang perlu dikembangkan untuk mahasiswa. Dari banyak skill yang ada, saya mencoba mengidentifikasi beberapa yang saya nilai paling penting dimiliki mahasiswa  Tujuannya agar mahasiswa dan lulusan Universitas Pertamina mempunyai ‘kemampuan’ lebih dan akan lebih dilirik oleh indutri saat mereka mencari pekerjaan nanti.

Beberapa Kompetensi yang Perlu Dikembangkan

Yang dimaksud kompetensi yang perlu dikembangkan adalah kompetensi yang minimal harus dimiliki oleh mahasiswa, sehingga selain menguasai bidang-bidang keilmuan yang dipelari selama kuliah, mereka juga mempunyai traits atau serangkaian kompetensi yang melekat pada diri mereka.  Ini yang diharapkan bisa membedakan antara lulusan Universitas Pertamina dengan alumni lain yang tidak melatih atau mengembangkan kompetensi atau skills tertentu.  Diharapkan dengan penguasaan serangkaian kompetensi tersebut, alumni Universitas Pertamina akan lebih mudah terserap di pasar atau industri. Kalau kita mempejari kamus kompetensi generik, mungkin ada ratusan jenis. Namun saya akan menyebutkan sebagai “core competencies” yang mesti dikembangkan, selaras dengan Visi Universitas Pertamina yang telah dicanangkan oleh Pimpinan. Kompetensi-kompetensi di bawah ini yang diharapkan mampu menjadi diferensi mahasiswa Universitas Pertamina :

  1. Entrepreneurship

Pertanyaannya adalah apa pentingnya berwirausaha kalau kita mau bergabung ke industri atau hanya sebagai karyawan?  Jawabannya adalah kompetensi ini mengandung serangkaian skill yang yang harus dikuasai saat seseorang harus menunjukkan kemampuan “berwirausaha”, entah sebagai pengusaha mandiri atau sebagai karyawan.  Beberapa skill yang menunjang di kompetensi ini antara lain pengambilan keputusan, pengambilan risiko, menentukan prioritas dan mengambil tanggung jawab.  Jika seseorang mampu menunjukkan entrepreneurship ini, ia juga akan lebih cakap sebagai karyawan, karena disanalah sebagian persyaratan leadership melekat

  • Curiousity atau information seeking

Curious adalah sifat rasa ingin tahu yang besar. Kompetensi ini sangat dekat dengan kompetensi entrepreneurship. Pertanyaan mengapa (why) menjadi landasan untuk mencari jawaban atas suatu permasalahan. Orang didorong mencari informasi yang sahih atau objektif untuk menemukan jawaban atas suatu permasalahan.  Semakin banyak pertanyaan why diajukan, semakin dalam dan dekat seseorang bisa memperoleh jawaban atas suatu permasalahan. 

  • Analytical thinking

Kompetensi ini juga terkait erat dengan kompetensi information seeking. Dalam dunia kerja atau dalam kehidupan sehari-hari kemampuan menganalisa untuk memecahkan masalah sangat penting.  Banyak teknik yang dikembangkan untuk melatih kemampuan berpikir analitis ini, seperti membaca literasi, bermain game, pemetaan pikiran menggunakan matrik sebab akibat dan banyak lagi.

  • Creativity

Kreatifitas merupakan kemampuan berpikir yang “diluar kebiasaan”. Banya permasalahan yang membutuhkan pemecahan diluar cara yang umum.  Saya belum menemukan kata pengganti untuk berpikir out of the box, tetapi dengan seseorang mengembangan banyak alternatif solusi yang tidak biasa, akan semakin mudah suatu permasalahan   diatasi.  Bahasa Jawa untuk “mikir nyleneh” mungkin untuk sebagian orang merupakan perwujudan kreativitas.  Tetapi dalam konteks pemecahan masalah, kreativitas bisa berwujud “pendekatan lain yang diperlukan” atau melihat dari sudut pandang yang lebih luas lagi.

  • Teamwork

Banyak organisasi yang mempunyai value yang mengedepankan kerjasama, di atas kemampuan individual.  Seorang harus mampu bekerjasama dengan orang lain dan menjadi bagian dari kelompok kerjanya.  Teamwork mengandung arti juga  menerima, berkomitmen dan menjalankan kesepakatan kelompok.

  • Problem solving

Kompetensi ini sangat penting dalam konteks mencapaian tujuan organisasi. Mahasiswa atau karyawan dilatih tidak hanya menemukan masalah, tetapi juga mampu menemukan solusi dan memberikan saran atas permasalahan yang muncul.

  • Communication skill

Merupakan kemampuan menerima dan memahami informasi dari pihak lain, serta mampu menyampaikan pendapatnya secara jelas dengan berbagai media informasi yang tersedia.  Kemampuan ini perlu dilatih sehingga orang bisa menyampaikan pesannya tanpa orang lain merasa dipaksa.

Melihat kompetensi-kompetensi di atas sebenarnya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, semua saling mengisi dan berkaitan.  Misalnya bagaimana seseorang bisa memecahkan masalah jika ia tidak mempunyai kemampuan menyampaikan idenya dengan baik (communication skill). Bagaimana ia memberikan solusi atas permasalahan organisasi jika dia tidak mencoba step back, melihat sedikit dari jauh (creativity) dan menemukan data dan informasi (information seeking) yang mendukung solusi yang diusulkan.

Bagaimana Implementasinya

Menanamkan ketujuh kompetensi di atas kepada mahasiswa mungkin sedikit berbeda pendekatannya dibanding menginternalisasikan kompetensi tersebut kepada karyawan di Perusahaan.  Beberapa ide di bawah ini bisa dipikirkan untuk dikembangkan :

  1. Materi Kuliah terkait Kompetensi

Diberikan kuliah tentang masing-masing kompetensi, meliputi definisi, indikator perilaku, level indikator perilaku, dan yang paling penting meng-explore behavior dengan contoh-contoh nyata.  Agar lebih melekat pada mahasiswa, bisa dibentuk kelompok-kelompok untuk membuat list of behavior. Dosen sebagai fasilitator akan merangkum hasil dari kerja kelompok tersebut.

  • Kandungan Kompetensi dalam Tugas

Dalam perencanaan pengajaran dan ujian harus didesain mengandung unsur kompetensi-kompetensi di atas.  Kuliah, ujian dan kuis diusahakan yang memancing problem solving, analisa, kreativitas dan lainnya, tanpa mengesampingkan landasan teori sebagai komponen technical competency.

  • Pengalaman dalam Proyek

Kerja kelompok mungkin sudah biasa dalam tugas-tugas yang diberikan dosen.  Tetapi memberikan pengalaman lebih kepada mahasiswa untuk membantu dosen dalam proyek-proyek penelitian dan proyek pengabdian pada masyarakat, termasuk mungkin mengerjakan tugas akhir dari proyek dosen secara kelompok, akan memberikan nilai tambah mahasiswa menginternalisasikan kompetensi-kompetensi di atas. 

Bogor, 10 Februari 2022

Catatan tentang penulis :

Sebelum bergabung dengan Universitas Pertamina, penulis mempunyai pengalaman di Pertamina di bidang SDM khususnya di organization development selama lebih dari 15 tahun dan di Pertamina Corporate University, sebelum masuk ke organisasi yang sifatnya bisnis riil, yaitu di anak perusahaan dan Dana Pensiun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *