+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Masa Persiapan Pensiun, Perlukah ?

Masa Persiapan Pensiun, Perlukah ?

Oleh : AM. Unggul Putranto

Mungkin judul yang saya buat sedikit provokatif, tetapi saya mempunyai tujuan men-challenge orang-orang muda yang mempunyai masa kerja yang masih panjaaaanng.  Mengapa ? Karena ketika kita sudah dekat dengan masa pensiun, dan kita berprinsip live will go on, ya sudah pasti kita terlambat untuk menyiapkan bekal, ketika mungkin kita hanya menerima kurang dari 10 persen dari yang biasa kita terima saat masih aktif.

Saat saya menjadi bagian dalam organisasi yang bertanggung jawab membuat program PMPK (Pembekalan Masa Purna Karya) di Pertamina, tujuan utamanya sebenarnya adalah menyadarkan pada peserta tentang masa yang akan dialami dan menyiapkan secara mental pada pasangan pekerja tentang situasi yang akan mereka hadapi.  Bahwa di dalam program tersebut peserta diajak ke berbagai industri kecil, pengrajin, peternak dan pebisnis lain, ini lebih pada memberikan ide kegiatan yang bisa dipikirkan ketika sudah tidak bekerja.

Sekitar 7 tahun menjelang pensiun, saya pernah diskusi dengan seorang teman yang bekerja di bank swasta, mengajaknya untuk mulai “berbisnis”.  Saya mengusulkan proyek properti kecil-kecilan sebagai awal, karena bidang ini menurut saya tidak ada matinya. Dia lantas memberi gambaran tentang makro ekonomi, tren sektor-sektor bisnis, situasi perbankan dan manajemen risiko.  Tetapi ketika saya mencoba membuat dia memutuskan apakah akan memulai sekarang atau tidak, dia mengatakan hanya pingin fokus di pekerjaannya saat itu, dengan alasan bahwa kalau dia memikirkan hal di luar pekerjaannya, dia sudah melakukan “korupsi” waktu.  Saya sangat menghargai argumentasinya.  Nah, sebagian besar dari pekerja pada umumnya mempunyai pendapat yang sama dengan teman saya tadi.  Mungkin dengan alasan yang bervariasi seperti tidak punya pengalaman dan keahlian, pekerjaannya saat itu sudah menyita waktu dan tenaga, dan handicaps lain.

Tapi bisakah kita fokus mencurahkan pikiran ke pekerjaan saat ini, tetapi di waktu bersamaan kita juga memikirkan masa depan kita ?  Tidak bisa dipungkiri bahwa kita mesti fokus dalam bekerja. Saya akan mulai dari masalah “waktu”. Berapa jam kita meninggalkan rumah untuk bekerja ? Masih adakah waktu dan energi untuk memikirkan masa depan ?  Kalau jawabannya positif, kita bisa mulai.

Mulai dari Investasi

Saya punya teman lama yang punya hobi yang unik, mengumpulkan uang kuno, terutama uang Republik Indonesia dan jaman penjajahan, termasuk uang daerah.  Awalnya saya tidak mengerti apakah ini hobi, bisnis atau investasi.  Penggemar numismatik di Indonesia mungkin tidak terlalu besar, tetapi teman saya ini bisa menciptakan peluang dari ceruk yang sempit ini menjadi peluang yang luas. 

Mungkin Anda tidak percaya uang Rp 1000 gambar Presiden Sukarno tahun 1963 harganya bisa jutaan.  Atau uang Rp 100 warna merah gambar phinisi tahun 1992, harganya bisa ratusan ribu.  Tentu kualitas menentukan harga, dan oleh teman saya hal ini bisa dijadikan peluang.  Uang kuno yang lecek tentu beda jauh dengan uang yang kondisinya mulus seperti habis keluar dari bank. Uang dengan nomor seri berurutan, misalnya UPS 888888 atau GAK 123456 mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi dari nilai intrinsiknya.  Ada lagi kategori uang kertas un-issued, uang yang pernah dicetak tapi tidak jadi dikeluarkan karena suatu alasan.  Lebih gila lagi pecinta numismatik mempunyai kategori uang “salah cetak” (misprint), misalnya separo sisi hanya tercetak separo halaman.  Dan masih banyak lagi kategori lain yang unik.

Inilah contoh dari bagaimana orang bisa membaca peluang, dan ini menjadi modal dasar untuk berinvestasi, dalam hal apa saja.  Apakah ‘keisengan’ teman saya tadi mengganggu waktu kerjanya, saya pernah ajukan pertanyaan ini kepadanya yang saat itu jabatannya direktur suatu perusahaan perhotelan.  Dia menjawab, ketika dia sudah capek bekerja, dia sempatkan pulang kerja mampir ke Pasar Baru melihat lapak penjual uang kuno dan perangko, pikiran jadi ringan dan membuatnya bersemangat.

Tapi investasi perlu uang banyak bukan ?  Pada umumnya memang demikian, tapi saya pingin mengurangi satu kata “banyak” di kalimat di atas.  Pernah suatu saat dia pinjam uang Rp 10 juta ke saya, dua hari nanti dikembalikan dengan bunga/fee 10 persen. Wow banyak banget pikirku.  Apa yang dia lakukan.? Dia mengakuisisi uang pecahan un-issued gambar harimau dan monyet, sebanyak 3 lembar.  Dia tidak mengoleksinya, karena ada orang lain yang akan menampung uang koleksi super langka itu.  Dia beli Rp 12 juta, berarti modal dia cuma Rp 2 juta, laku Rp 22,5 juta. Artinya dengan modal Rp 2 juta dia mendapat keuntungan Rp 9,5 juta, atau 475 persen.

Investasi pun demikian.  Dimulai dari melihat peluang dan “sedikit” keberanian mengeksekusi.  Berbicara masalah keberanian tentunya tergantung pada profil risiko kita masing-masing.  Orang dengan profil resiko rendah tentunya akan menyimpan uangnya di tabungan bank dengan bunga 0,2 – 3,1 persen per tahun, atau menyimpan emas di lemari.   Orang yang mempunyai profil resiko yang sedang (moderat), mungkin akan menabung dalam bentuk properti, tanah, rumah, ruko atau kos-kosan.  Orang dengan profil risiko yang sedikit lebih tinggi mungkin akan berinvestasi di saham.  

Sekarang kita cerita tentang saham. Katakan kita tidak melakukan trading, jual beli saham tiap hari karena kita sibuk dengan pekerjaan kita sehari-hari, mana yang lebih baik menyimpan uang di tabungan atau di pasar saham ?  Siapa sangka saham Bank BRI (BBRI) per hari ini  (7/3/22) harganya Rp 4.520, sementara pada bulan Mei 2020 yang hanganya hanya Rp 2.160, dan masih dapat deviden pula. Artinya selama kurang dari 2 tahun jika kita memegang saham BBRI, asset kita akan bertambah 109 persen.

Bagaimana kalau kita tidak punya cukup uang untuk investasi, misalnya di properti ?  Saya punya keyakinan kalau kita bisa menentukan lokasi yang tepat, atau informasi (termasuk informasi prospek 5 sampai 10 tahun ke depan) yang bagus untuk properti pilihan kita, bunga yang kita bayar untuk KPR masih lebih murah dibanding nilai saat asset itu mau dilepas lagi.  Makanya kata influencer properti yang biasa kita lihat di TV, selalu mengatakan ada 3 faktor yang menentukan kita cuan atau tidak dalam berinvestasi di properti, yaitu lokasi, lokasi dan lokasi.

Ada lagi peluang yang Anda bisa pertimbangkan jika Anda memiliki profil risiko yang sedikit lebih tinggi, yaitu menaruh dana kita di P2P lending.  Perusahaan peer to peer umumnya menawarkan bunga 11-14 persen per tahun.  Memang banyak yang harus kita pertimbangkan, yang utama dan mutlak adalah perusahaan P2P yang kita pilih mempunyai ijin operasional dari OJK.  Setelah itu pelajari lebih dalam misalnya asset yang dikelola, jumlah mitra yang didanai, pinjaman yang bermasalah, dan ada tidaknya asuransi yang meng-cover jika terjadi risiko.  Dari pengalaman saya mendanai 16 mitra perempuan selama 2 tahun, hanya 1 yang at risk, atau 3 persen rata-rata per tahunnya, meskipun peminjam mempunyai penilaian (level keyakinan) B-.   Atas risiko tersebut, Perusahaan memberikan asuransi sebesar 75 persen dari sisa pokok yang belum dikembalikan, apabila borrower tidak mencicil selama 90 hari (macet) 

Banyak tokoh-tokoh inspiratif yang sukses di bidangnya masing-masing.  Sebutlah misalnya Lo Kheng Hong, Warren Buffet-nya Indonesia di bidang saham.  Dengan mendengarkan motivasinya di youtube ketika sedang berbicara di suatu perusahaan, kita akan terinspirasi perjalanan suksesnya di bursa.  Kita bisa mendapat pelajaran bagaimana dia memilih saham.  Satu hal yang saya pelajari dari Lo Kheng Hong, dia membeli saham setelah dia membaca laporan keuangannya.  Jadi preferensi dia adalah fundamental, setelah itu baru dia melihat history dan teknikalnya.  Ketika saya mengikuti satu edukasi saham, coach menyarankan jika kita tidak punya waktu untuk trading, tetapkan 90 persen dari dana kita di saham-saham yang sifatnya investing (jangka panjang dipegang lebih dari 1 tahun), biasanya saham lapis 1 dan 2, sisanya baru saham lapis ketiga atau keempat.

Takut Ditipu

Tentu perasaan ini wajar buat kita semua, siapa mau ditipu orang lain.  Saya pun pernah mengalami hal yang sama, dan itu sangat menyakitkan. Tapi bersumpah serapah sampai kapanpun, tidak ada gunanya. Saat itu yang terjadi adalah saya diajak berinvestasi dalam penanaman singkong di Kulon Progo, yang dijanjikan bagi hasil yang nilainya cukup menggiurkan.  Tapi semua hanya omong kosong, karena bahkan petanipun yang lahannya disewa, tidak dibayarkan sesuai perjanjian. Kita hanya bisa percaya bahwa sang penipu akan mendapatkan karmanya, entah dalam waktu dekat atau dalam waktu panjang.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari kasus tersebut ? Kita bisa menharapkan suatu imbal hasil kalau kita memiliki standar di bidang atau “industry” nya masing-masing.  Misalnya, dalam bercocok tanam singkong tadi, berapa ton produksi per hektar di daerah Kulon Progo.  Jika informasi yang kita terima dari orang yang menawarkan investasi, jauh dari standar deviasi, alarm kita harus langsung menyala bahwa kita sedang jadi target penipuan.  Penipu biasanya menjustifikasi proposalnya dari teknologi yang dia pakai, sumber daya yang dimiliki, laporan yang akan dibuat dan sebagainya.  Pertanyaan selanjutnya, apakah dia mempunyai keahlian dari teknologi yang dia akan pakai.  Berikutnya agar kita lebih yakin apakah dia menguasai network dari bidang yang dia tawarkan ? Kalau semua jawaban negatif, sudah lah tinggalkan dia dengan mengatakan “saya tidak tertarik”, atau atau tegas mengatakan “saya tidak punya uang” meskipun dia itu adalah teman dekat Anda.

Buat saya yang terpenting kita bisa memetik pelajaran dari suatu kasus penipuan, dan mampu bangkit lagi.  Jangan segan untuk menceritakan pada orang lain. Umumnya orang malu mengungkapkan pengalaman konyolnya, tapi dengan menceritakan pengalaman Anda, berarti Anda sudah menyelamatkan orang lain.

Penutup

Menyiapkan masa pensiun tidak perlu menunggu saat Anda mengikuti palatihan pra purna bakti.  Saat kita bisa menemukan peluang yang pas untuk melangkah saat masih muda, maka itu adalah landasan untuk sukses di kemudian hari.  Memang semua mempunyai risiko, seperti orang berjalan kaki di pinggir jalan pun juga punya risiko.  Sepanjang kita punya keyakinan risiko itu masih bisa membuat kita berdiri, maka apapun itu bisa menjadi pelajaran untuk lebih sukses.  Apabila suatu kita tidak beruntung dalam suatu usaha, mungkin kita juga harus ingat ketika suatu berkat pernah menghampiri kita. Ketika kita ingat pernah bersyukur atas berkat yang kita terima, suatu “kecelakaan” akan menjadi pelajaran yang paling berharga. Dengan demikian kita menjadi lebih tangguh.

Pensiun adalah suatu keniscayaan, tapi kalau kita melangkah lebih awal suatu saat kita akan menyesal kalau kita lahir terlalu cepat.  Ah kenapa baru sekarang saya memulai usaha ini …. 

Bogor, 9 Maret 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *