+62 812-1149-9919 info@universitaspertamina.ac.id

Mojokerto: Menelusuri Jejak Kegagahan Majapahit

Mojokerto: Menelusuri Jejak Kegagahan Majapahit

Kerajaan Majapahit berdiri pada akhir abad ke-13 dan Raden Wijaya adalah raja pertamanya. Kerajaan Hindu-Buddha ini mengalami masa kejayaan pada abad ke-14 pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada bersumpah untuk menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit. Sumpah terkenal ini dikenal dengan Sumpah Palapa.

Namun kemudian, keruntuhan Kerajaan Majapahit ini disebabkan oleh adanya konflik internal dan wabah kelaparan pada abad ke-15. Bukti-bukti peninggalan Kerajaan Majapahit hingga kini masih bisa disaksikan, terutama di Mojokerto, yang merupakan pusat pemerintahan Majapahit.

Pada beberapa waktu yang lalu, saya sengaja mengunjungi kota ini untuk melihat dan merasakan keadaannya saat ini. Sekilas, Mojokerto merupakan kota yang bersih, kecil, dan teratur. Sayangnya, pariwisata dari Mojokerto ini jarang terdengar kehebatannya dibandingkan dengan kota di Jawa Timur lainnya, seperti Malang atau bahkan Surabaya. Padahal, jika ditelusuri wilayah Mojokerto banyak sekali situs bersejarah yang menarik untuk dikunjungi dan didalami keberadaannya.

Untuk melihat-lihat candi peninggalan kerajaan di wilayah Mojokerto, maka kita harus menuju ke Kecamatan Trowulan. di Kabupaten Mojokerto atau kira-kira 25 menit dari Kota Mojokerto. Di sana, saya melihat kemegahan Candi Wringin Lawang. Konon dahulu di dekat candi terdapat pohon beringin yang besar sehingga candi ini dinamakan Candi Wringin Lawang (dalam bahasa Jawa, wringin berarti beringin, lawang berarti pintu). Wringin Lawang disebut merupakan pintu masuk menuju kompleks bangunan penting di Ibu Kota Majapahit..

Candi lain yang ada di Trowulan adalah Candi Brahu, candi yang dahulunya berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah dari raja-raja Brawijaya. Tempatnya sangat luas dan perawatan candi sangat dikelola dengan baik.

Candi lain yang kita kunjungi adalah Candi Bajang Ratu. Lingkungan candi ini sangat luas dan indah. Bangunan Candi Bajang Ratu memiliki struktur yang kokoh dan kuat, sehingga bangunan candi ini bisa bertahan lebih lama dari pada tipe bangunan lainnya. Candi Bajang Ratu adalah candi untuk memperingati raja Majapahit yang kedua yaitu Raja Jayanegara.

Selain itu, terdapat candi yang sudah cukup populer, yaitu Candi Tikus. Candi tikus berbeda dengan candi lainnya karena bentukan candinya yang telah terkubur dalam tanah yang dipercaya sebagai tempat pemujaan dan tempat pemandian raja-raja.

Berikut adalah penampakan masing-masing candi:

Selain situs peninggalan Majapahit, Mojokerto dipenuhi wisata lainnya seperti Buddha Tidur dan Museum Gubug Wayang Mojokerto. Patung Buddha Tidur terletak di dalam wihara di Trowulan dan disebut patung ini adalah patung Buddha TIdur ketiga terbesar di dunia setelah yang ada di Thailand dan Nepal.

Berbeda dengan tempat wisata lainnya, Museum Gubug Wayang Mojokerto dikelola oleh pihak swasta. Jenis koleksi yang dipamerkan di museum ini adalah wayang, terakota, keris, wayang, dan mainan tradisional.

Berikut adalah beberapa foto yang diambil dari lokasi patung Buddha Tidur dan Museum Gubug Wayang Mojokerto.

Setelah beberapa hari di Mojokerto, wisata saya ditutup dengan berbelanja onde-onde dan mencoba kuliner wader. Secara keseluruhan, makanan Mojokerto menarik, murah, dan cukup unik. Bagi yang tak pernah makan wader sebelumnya, wader adalah ikan sungai yang bentuknya kecil-kecil. Rumah makan wader yang cukup ramai dikunjungi adalah Rumah Makan Sambel Botok dan Wader Cak Mat yang terletak di depan Kolam Segaran. Kolam ini dikenal sebagai tempat andalan keluarga Kerajaan Majapahit menyambut tamu luar negeri pada masanya.

Nah, bagi yang suka berwisata sejarah nusantara, Mojokerto merupakan pilihan yang tepat untuk wisata dengan harga terjangkau dan dipuaskan dengan banyak atraksi.

Namun, dengan potensi yang besar, sektor pariwisata di Mojokerto wajib terus dikembangkan, apalagi dari segi fasilitasnya dan pemeliharaannya. Semua itu tentu dilakukan oleh semua pihak, baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Selain itu, perlu juga penyebaran informasi yang lebih luas agar lebih banyak lagi wisatawan datang ke Kota Onde-onde itu. Yuk, kita viralkan, Mojokerto! Tempat kita bisa menggali kegagahan Nusantara di masa lampau dan semoga kita bisa menyerap nilai-nilainya untuk kemajuan Negeri ini di masa ini dan ke depannya. (Jakarta, AO).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *